Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan pada anak sangatlah penting, maka dari itu peran orang tua sebagai pendidik pertama dan utama dalam membentuk pribadi yang memiliki tingkat kecerdasan intelektual, emosional, fisik dan spiritual sangat diperlukan.
Di era milenial ini, tantangan akan pendidikan anak menjadi hal yang perlu disikapi bersama. Keluarga yang merupakan unit terkecil dalam masyarakat mempunyai peran sentral dalam pendidikan, karena disadari atau tidak kemajuan dan perubahan zaman telah membawa perubahan pula dalam pola pendidikan dan perkembangan anak. Keluarga pun dituntut untuk selalu menyesuaikan diri dan meningkatkan kapasitas dirinya sebagai orang tua, pemimpin, pendidik sekaligus sahabat dan teladan untuk anak-anaknya.
Perkembangan teknologi dan komunikasi memberikan efek positif hingga negatif bagi perkembangan anak di zaman sekarang. Dari data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2017 menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia sebagian besar berusia muda.
![]() |
| hasil survey APJII 2017 |
Dari hasil survey, kita bisa menyimpulkan bahwa kategori anak hingga remaja adalah pengguna internet berdasarkan usia terbanyak yang bila ditotalkan sebesar 66.20% . Besarnya jumlah pengguna internet dari kalangan muda ini lah yang menjadi perhatian bagi dunia pendidikan.
Berbagai konten baik yang positif maupun negatif dapat dengan mudah bisa diakses. Penyalahgunaan penggunaan internet akan berakibat buruk pada tumbuh kembang anak, misalnya kecanduan game, bullying, motivasi belajar yang menurun bahkan kesehatan mental yang terganggu.
Disinilah peran orang tua dibutuhkan untuk terlibat langsung dalam penyelenggaraan pendidikan yang sesuai dengan era kekinian.
POLA ASUH ORANGTUA MILENIAL
![]() |
| ibu yang mengayomi anak-anaknya |
Ada banyak cara pola asuh yang kita ketahui selama ini, salah satunya otoriter yang cenderung membatasi perilaku kasih sayang, sentuhan dan kelekatan emosi antara nak dan orangtua yang seakan menciptakan pembatas yang memisahkan si otoriter (orangtua) dengan si patuh. Namun seiring berjalannya waktu, pola asuh tersebut tekesan kuno dan tidak fleksibel untuk jaman milenial ini. Adapun pola asuh baru yang diyakini mampu membantu orang tua milenial yaitu Drone Parenting.
Apa itu Drone Parenting ? Berasal dari kata Drone yaitu pesawat kecil tanpa awak yang berbentuk mirip helikopter. Drone dapat bergerak bebas diangkasa, namun tetap dikontrol oleh pengemudi dari jarak jauh dengan menggunakan sebuah remote. Hal itu lah yang diharapkan dengan pola asuh Drone Parenting mampu memberikan kebebasan kepada anak-anak untuk memilih kegiatan apapun yang mereka suka serta mengeksplore hal-hal baru namun orang tua dapat mengawasi bahkan mengendalikan dari jarak jauh.
Melalui teknologi, orangtua dapat mengetahui kemanapun anaknya pergi melalui gadget yang dihubungkan dengan GPS tracker. Bahkan orangtua zaman now, mampu melihat aktifitas anaknya melalui media sosial yang diikutinya. Entah dari informasi si anak, statusnya terkini hingga teman-teman yang berada di-circle nya pun dapat diawasi oleh orangtua dengan nyaman.
![]() |
| pengawasan melalui teknologi oleh orangtua |
Adapun kelebihan dari penggunaan pola asuh ini adalah
Anak lebih ekspresif
Anak mampu mengutarakan perasaan dan pendapatnya, lebih berfikiran terbuka dan lebih cerdas. Ia juga mampu memahami serta memberikan feedback atas sebuah permasalahan. Anak akan lebih mudah diajak diskusi bersama orangtua.
Anak melek teknologiAnak yang dibiarkan mengeksplor berbagai game maupun video digadgetnya akan terbiasa dengan teknologi yang ia gunakan. Teknologi yang terus berkembang akan berjalan selaras dengan pertumbuhannya pula.
Namun kelebihan tersebut juga diiringi oleh kekurangan yang menghantui pikiran orangtua jaman now, yaitu anak ditakutkan akan sulit diatur karena dibiarkan terlalu bebas mengutarakan pendapatnya, apalagi kencenderungan kecanduan teknologi yang mengakibatkan anak ketergantungan berlebihan kepada gadget.
Untuk itu perlu peran orangtua yang mampu memberikan batasan dan disiplin pada anak. Semisal dengan menegaskan peraturan penggunaan gadget dalam kurun berapa jam saja. Selebihnya anak diberikan waktu untuk bermain atau belajar secara langsung. Seperti mengajarkan anak membaca dan menulis dibuku, menyusun puzzle atau berjalan - jalan ditaman dan berolahraga guna menjaga kesehatan jasmaninya.
![]() |
| olahraga biar sehat |
Perlunya meluangkan waktu untuk bermain dan berinteraksi langsung dengan anak diharapkan dapat menunjang pola asuh Drone Parenting. Sebab biarpun diberikan kebebasan, anak tetap memerlukan arahan dari orangtua utnuk mengenal mana yang baik dan mana yang buruk, karena kebebasan yang berlebihan apalagi terkesan membiarkan, akan membuat anak bingung dan berpotensi salah arah.
Adapun cara meningkatkan peran orang tua terhadap pendidikan anak di era kekinian adalah sebagai berikut,
1. Mengontrol dan mengingatkan waktu belajar anak.
Peran orang tua yang mulai tersaingi dan terkesan kalah dengan tontonan televisi yang menarik membuat waktu-waktu strategis anak untuk belajar menjadi terabaikan. Dalam proses kontrol, semestinya anak-anak diajarkan utnuk belajar secara rutin, tidak hanya belajar saat mendapat PR atau akan menghadapi ulangan, oleh karena itu jika telah menentukan waktu yang cocok untuk belajar anak maka matikanlah televisi, dan tidak kalah penting ajarkanlah untuk mengulang pelajaran yang diberikan guru pada hari itu.
2. Memantau perkembangan kemampuan akademik anak.
Orang tua memeriksa nilai-nilai tugas dan ulangan anak. Hal ini baik jika dilakukan bahkan menjadi perhatian istimewa tersendiri bagi anak, berikanlah pujian maupun dukungan kepada anak-anak dari hasil perkembangan akademiknya, sehingga semangat belajar mereka terus meningkat. Namun apabila anak mengalami penurunan akademik, jangan lantas dimarahi. Orang tua harus mencari tahu dimana letak kesulitan bagi sang anak dan kemudian memecahkannya bersama.
3. Memantau perkembangan kepribadian yang menyangkup sikap, moral dan tingkah laku anak.
Orang tua menjalin komunikasi dengan wali kelas agar mengetahui perkembangan anak di sekolah. Harus ada upaya dari kedua belah pihak untuk menjaga perkembangan kepribadian anak. Mengetahui apa yang dikerjakan anak di sekolah, dapat mengurangi resiko kasus bullying.
4. Membantu anak mengenali dirinya.
Orang tua membantu anak mengembangkan potensi sesuai bakat dan minatnya, membantu meletakkan pondasi yang kokoh untuk keberhasilan hidup anak dan membantu anak merancang hidupnya. Jangan memaksakan kehendak dan merasa paling tahu apa yang terbaik untuk anak, sehingga mengindahkan pikiran dan suara hati mereka. Biarkanlah anak menggapai mimpinya, orang tua hanya membimbing dan mengarahkan agar si anak mampu meraih apa yang ia impikan.
Last but not least, Orang tua wajib memberikan dukungan moril dan sarana untuk membantu anak mengembangkan potensi dan bakat yang ada. Menjaga agar anak memiliki etika dan sopan santun sesuai tuntutan agama ketika berinteraksi secara langsung maupun melalui media sosial. Mengajarkan bahwa ada hal-hal yang dapat melanggar norma kesusilaan dan agama seperti menulis yang menyangkut sara, menyebar hoax hingga mengunduh foto dan video pribadi orang lain yang bisa saja dapat menjeratnya dengan hukum. Namun, proses penyampaian informasi tetap harus dilakukan dengan bijak agar anak tidak menjadi minder ataupun ketakutan.
Melalui Program Pembinaan Pendidikan Keluarga yang dibentuk oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak
Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, diharapkan dengan adanya website Sahabat Keluarga , orang tua dapat memperoleh praktik baik pendidikan keluarga, mempelajari pengalaman dari orang tua dan berbagi kepada orang tua lain agar dapat mendidik anak-anaknya hingga berhasil.
Turut serta langsung terhadap pendidikan anak-anak kita karena mereka adalah para pahlawan untuk masa depan Indonesia.
#sahabatkeluarga
referensi dari sahabatkeluarga
ilustrasi gambar dari fumira












0 comments:
Post a Comment