The Great Queen Seon Deok Episode 47
Meski unggul posisi, Chilseok (Ahn Kil-kang) tidak berani menyerbu masuk ke pondok dimana Putri Deokman (Lee Yo-won) berada. Dalam keadaan terjepit, tiba-tiba Sohwa (Seo Young-hee) mengajukan usul yang cukup berbahaya.
Putri Deokman terus menolak karena sadar betapa besar resiko yang harus ditanggung, namun ia bergeming ketika Sohwa memanggil namanya secara langsung dan meminta Deokman untuk menurut. Di luar, Chilseok menugaskan sejumlah pasukan terbaiknya untuk mengenakan topeng dengan satu tujuan : membunuh Putri Deokman.
Secara mengejutkan, orang-orang kiriman Chilseok tewas dengan mengenaskan dengan cepat. Sadar bahwa di sisi Putri Deokman ada pendekar berilmu tinggi selain Yushin (Uhm Tae-woong), Chilseok memutuskan untuk memimpin langsung penyerangan ke dalam pondok.
Berada di ruang sempit membuat Chilseok terperangkap, di dalam sebuah kamar ia berhadapan dengan Yushin. Meski masih cedera, Yushin mampu menahan Chilseok. Begitu melihat beberapa orang terbujur kaku, Chilseok baru sadar kalau dirinya ditipu. Rupanya, kubu Putri Deokman menggunakan kostum pasukan bertopeng untuk menyelinap keluar.
Buru-buru keluar untuk meringkus mereka yang kabur, Chilseok tidak tahu kalau Putri Deokman yang asli masih berada di dalam pondok sementara yang kabur dengan pakaian musuh adalah Wolya (Joo Sang-wook) dan Sohwa. Dengan kehebatannya, Chilseok mampu mengejar hingga tinggal berhadapan dengan dua orang yang kabur. Teringat akan perintah Mishil (Go Hyeon-jeong), Chilseok langsung menyiapkan pedangnya untuk melakukan serangan terakhir.
Dari atas pohon, Chilseok kembali mengingat akan perjuangannya selama ini untuk menghabisi Putri Deokman sebelum kemudian melompat dari atas pohon untuk menebas pedangnya sekuat tenaga. Di tempat lain, Putri Deokman yang tengah berusaha meloloskan diri tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa di bagian dadanya.
Begitu membuka topeng orang yang ditebasnya, Chilseok sangat terpukul saat tahu orang itu adalah Sohwa, yang sempat mengucapkan pesan terakhir sebelum meninggal. Dengan gontai, Wolya kembali ke persembunyian Putri Deokman sambil membawa berita buruk. Bisa dibayangkan, bagaimana terpukulnya sang putri melihat wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu sendiri terbujur kaku dihadapannya.
Tidak cuma Putri Deokman, Chilseok tidak kalah terpukul saat mengetahui kalau dirinya telah membunuh Sohwa dengan tangannya sendiri. Meski begitu, ia tetap menyatakan kesetiaannya pada Mishil meski dalam hati merasa kalau dirinya seharusnya sudah mati sejak lama.
Di hadapan semua orang, terutama Jukbang (Lee Moon-shik) yang terus menangis, Putri Deokman terlihat begitu tegar. Namun saat tinggal sendirian, gadis itu menangis sejadi-jadinya. Adegan itu terlihat oleh Yushin dan Bidam (Kim Nam-gil), dan seolah tersadar akan sesuatu, Putri Deokman langsung bangkit dari kesedihannya.
Sama seperti sebelumnya, kematian orang terdekat membuat semangat Putri Deokman semakin berkobar. Tidak ingin lagi ada yang mati demi dirinya, Putri Deokman mengabaikan saran Chunchu (Yoo Seung-ho) dan memutuskan untuk keluar dari persembunyian sehingga semua orang tahu kalau dirinya masih hidup.
Kesempatan tersebut datang ketika muncul kabar bahwa utusan dari kerajaan Tang bakal datang ke Seorabol. Saat iring-iringan masuk ibukota, tiba-tiba dari atas muncul selebaran yang berisi ajakan kepada rakyat untuk membebaskan Raja Jinpyeong (Jo Min-ki) yang tengah ditawan oleh Mishil. Dalam waktu singkat, isi selebaran tersebut menjadi topik pembicaraan hangat di kalangan rakyat dan hwarang.
Kecurigaan terhadap Mishil langsung merebak, satu-satunya pentolan hwarang yang membela adalah Seokpum (Hong Kyung-in). Dengan posisi yang makin terdesak, Mishil harus berhadapan dengan utusan kerajaan Tang yang mengajukan permintaan yang tidak masuk akal. Sadar kalau dirinya diremehkan, Mishil meminta waktu untuk bicara empat mata dengan sang utusan.
Untuk membuktikan kalau dirinya tidak main-main, Mishil dengan dingin menyebut siap melakukan apapun untuk memastikan Shilla tidak dianggap remeh termasuk dengan memenggal kepala utusan dari kerajaan Tang. Tekanan tersebut sukses membuat sang utusan gentar, sambil minta maaf ia menyebut siap memulai hubungan baik dengan pimpinan Shilla yang baru.
Ketika berjalan keluar, Mishil terus dipuji oleh Misaeng (Jung Woong-in) karena kehebatan diplomasinya. Ia tidak mendengar sebuah suara yang terus memanggilnya, dan baru sadar saat terdengar vas pecah. Begitu melihat siapa yang muncul dengan pakaian prajurit istana, Mishil dan rombongannya sangat kaget.
The Great Queen Seon Deok Episode 48
Sambil tersenyum mengejek, Putri Deokman (Lee Yo-won) menyatakan dirinya siap ditangkap sesuai titah Raja Jinpyeong (Jo Min-ki). Bahkan, sang putri menantang dengan menyebut tidak takut disidangkan dan dihadapkan dengan para saksi seputar percobaan pembunuhan terhadap Sejong (Dok Go-young).
Meski tergolong nekat, langkah Putri Deokman bukannya tanpa perhitungan. Ketika para bawahan meminta supaya sang putri dibunuh, Mishil (Go Hyeon-jeong) menolak karena sadar bahwa dengan demikian, maka kekuasaan otomatis bakal berpindah ke Chunchu (Yoo Seung-ho). Hal itu juga yang berusaha dijelaskan Yushin (Uhm Tae-wong), namun Bidam (Kim Nam-gil) malah naik pitam dan memukulnya.
Yushin hanya bisa terdiam, ia mengingat percakapan di malam sebelum Putri Deokman nekat mendatangi istana. Dengan wajah serius, Yushin mengatakan bahwa saat ini mereka hanyalah pion dalam permainan catur yang bakal dicatat dalam sejarah. Di tengah perdebatan antara Yushin dan Bidam, Chunchu hanya bisa terdiam dan sadar bahwa yang terbaik adalah mengikuti strategi Putri Deokman.
Diam-diam, kemunculan kembali Putri Deokman menjadi bahan pergunjingan para bangsawan yang mulai menaruh simpati padanya. Keinginan untuk melakukan sidang terbuka mulai merebak, yang semakin menguat setelah para pentolan hwarang menyuarakannya di depan istana. Posisi kubu Mishil makin terpojok ketika Raja Jinpyeong muncul untuk menyambut gagasan tersebut, untungnya Seolwon (Jun Noh-min) bisa bertindak cepat.
Tidak bisa menghindar lagi, Mishil akhirnya setuju dengan gagasan sidang terbuka. Untuk memastikan keadaan tetap terkendali, ia memerintahkan supaya para bangsawan hadir sementara semua pasukan berada di bawah kendali Seolwon dan Sejong. Satu-satunya yang dicemaskan Mishil adalah Jujin, jendral yang membawahi ribuan pasukan.
Pada saat yang sama, Jujin tengah dibujuk oleh Chunchu untuk mau berpihak ke kubu Putri Deokman. Jujin sempat bingung ketika dirinya mendapat tawaran posisi perdana menteri dengan imbalan menyerahkan seluruh pasukan yang dibawahinya pada Mishil, namun tiba-tiba datang panggilan bagi putranya Piltan untuk menemui para pentolan hwarang lain. Rupanya, mereka berkumpul untuk menunggu kehadiran seseorang : Yushin.
Masih bimbangnya para pentolan hwarang dan ayah mereka yang kebanyakan bangsawan berpengaruh memusingkan Yushin, satu-satunya cara untuk menyatukan dukungan adalah lewat Munno. Keruan saja Bidam langsung terdiam, karena hanya dirinya satu-satunya orang yang tahu kalau sang guru telah meninggal dunia.
Menjelang sidang terbuka, masing-masing kubu mulai menyiapkan strategi. Mishil yang siap melakukan apa saja terhadap para bangsawan yang berani menentangnya terus berkonsolidasi. Sadar kalau wanita itu sangat kuatir, Seolwon berusaha menghibur dengan mengatakan bahwa setelah sidang, maka akan tercipta sejarah baru bagi Shilla dimana Mishil tampil sebagai ratu.
Begitu hari sidang terbuka tiba, kubu Mishil benar-benar bergerak cepat. Mereka memaksa para bangsawan untuk menyerahkan komando pasukan yang dibawahi, yang menentang langsung dibunuh. Untuk memastikan legitimasi sidang, Mishil tidak cuma menampilkan para tawanan melainkan juga Raja Jinpyeong yang masih sakit yang diwakili oleh Ratu Maya (Yoon Yoo-sun).
The Great Queen Seon Deok Episode 49
Di luar ibukota, para bangsawan dan ribuan pasukan menyatakan sumpah setia mereka pada Chunchu (Yoo Seung-ho), yang langsung memerintahkan pasukan untuk masuk ke Seorabol dan menyelamatkan Shilla yang di ambang kehancuran.
Di atas podium, wajah Mishil (Go Hyeon-jeong) langsung berubah begitu mendengar telah terjadi pembelotan besar-besaran. Bahkan, para hwarang yang telah berkumpul di gerbang ikut beralih setelah melihat Munno (yang sebenarnya adalah Bidam (Kim Nam-gil) yang menyamar) mendukung perjuangan Yushin (Uhm Tae-woong).
Meski posisinya semakin tidak menguntungkan, Mishil masih bergeming. Semua berubah ketika sebuah layangan menebarkan kertas yang menyebut bahwa Raja Jinpyeong (Jo Min-ki) telah diselamatkan. Dengan geram, Mishil mengambil busur dan anak panah serta mengarahkannya ke arah Putri Deokman (Lee Yo-won). Bukannya takut, sang putri malah berdiri sambil merentangkan kedua tangannya.
Nasib rupanya belum menghendaki Putri Deokman mati. Meski sempat ambruk, gadis itu bangkit lagi karena anak panah yang dilepas Mishil ternyata mengenai belati peninggalan Raja Jinheung yang selalu disimpan di saku baju sang putri.
Sadar kalau dirinya sudah kalah, Mishil langsung mengikuti permintaan Seolwon (Jun Noh-min) untuk kabur sambil memerintahkan para prajurit untuk membunuh semua tawanan. Untungnya sebelum terjadi pembantaian, Bidam dan pasukannya muncul sebagai penyelamat. Saat masuk ke tempat persembunyian, Mishil terkejut saat tahu surat rahasia yang disimpanya selama ini sudah tidak ada di tempat.
Dalam keadaan terjebak, Mishil memerintahkan untuk menembus gerbang utama dengan seluruh kekuatan. Seolwon langsung mengangguk, dan pidatonya mampu membakar seluruh prajurit yang semuanya masih setia pada Mishil. Strategi tersebut mengejutkan Putri Deokman, yang sama sekali tidak menyangka Mishil bakal berbuat senekat itu.
Begitu lolos, Mishil sadar bahwa keuntungan ada dipihaknya, ia memutuskan untuk mengungsi ke benteng Daeya yang terkenal memiliki pertahanan kokoh dan sulit ditembus. Hal serupa juga disadari Putri Deokman, yang sadar bahwa bila perseteruannya dengan Mishil semakin berlarut-larut, maka perang saudara tidak bisa dihindari.
Untuk mengembalikan kekuasaan, Putri Deokman mulai menyingkirkan para bangsawan pendukung Mishil yang ada di pos-pos penting. Sementara itu, Yeomjong berusaha mengingatkan Bidam kalau dirinya bakal tersingkir dari percaturan politik bila tidak berbuat apa-apa. Pasalnya, pria itu tidak memiliki latar belakang yang jelas.
Membersihkan kabinet, khususnya di bagian militer, ternyata tidak semudah yang dikira. Karena begitu lamanya kubu Mishil berkuasa, Putri Deokman mendapati bahwa banyak hal yang tidak dilaporkan dalam pembukuan. Yang lebih mengejutkan, Mishil, yang berada di tempat yang jauh, mampu menggunakan pengaruhnya untuk membelokkan kiriman busur panah dari Jepang sehingga masuk ke kantong kubunya.
Masalah tak berhenti muncul, seorang utusan tertangkap tengah melapor ke Mishil mengenai kebakaran besar yang terjadi di propinsi Gwangmun yang semakin menegaskan kuatnya pengaruh sang pemegang segel kerajaan di Shilla. Untuk mengatasinya, Putri Deokman mengambil langkah tegas : siapapun yang tidak melaporkan perkembangan daerah kekuasaan Shilla padanya bakal dieksekusi.
Untuk semakin mengisolasi pengaruh Mishil, Putri Deokman tiba-tiba teringat dengan surat rahasia tentang Mishil yang pernah diberikan mendiang Sohwa. Meminta Bidam untuk mengambil sendiri surat yang disembunyikan itu, Putri Deokman menyebut bakal mempercayakan posisi penting pada murid Munno itu. Mendapat kepercayaan, wajah Bidam langsung berseri-seri.
Di saat Putri Deokman berdebar-debar menanti datangnya surat rahasia, Bidam yang telah sampai di lokasi sangat terkejut saat tahu isi surat yang selama ini disimpan Mishil. Dalam keadaan terpukul, Bidam mengambil keputusan nekat.
The Great Queen Seon Deok Episode 50
Kehadiran Bidam, yang menghunus pedangnya, ternyata hanya disambut dengan senyum oleh Mishil. Berniat untuk menunjukkan surat yang dipegangnya, Bidam berubah pikiran dan malah bertanya kenapa Mishil tidak membunuhnya saat hendak merencanakan kudeta. Sayang, jawaban Mishil yang mengaku telah melakukan kesalahan malah membuat hati Bidam semakin sakit.
Mishil kembali mengambil keputusan mengejutkan ketika meminta anak buahnya membiarkan Bidam, yang sudah terkepung, pergi. Di istana, Putri Deokman dikagetkan oleh cerita Jukbang (Lee Moon-shik), yang mengaku pernah diberitahu Sohwa untuk tidak pernah mempercayakan surat rahasia yang direbutnya dari markas Mishil kepada Bidam.
Mulai mengira-ngira apa yang terjadi sebenarnya, Putri Deokman menanti kepulangan Bidam dengan kuatir. Apa yang ditakutkan sang putri terjadi, Bidam mengaku kalau surat rahasia telah hilang. Berusaha menyingkirkan kecurigaannya, Putri Deokman berusaha untuk memastikan kalau Bidam tidak berbohong.
Ketika ditanya soal hubungannya dengan Mishil, Bidam sempat terlihat ragu-ragu. Sementara itu di saat yang sama, Mishil dengan tenang menjawab pertanyaan Sejong (Dok Go-young) dan Misaeng (Jung Woong-in) soal siapa Bidam sebenarnya.
Di depan Sejong (Dok Go-young) dan yang lain, Mishil mengakui kalau Bidam (Kim Nam-gil) adalah putra hasil hubungannya dengan mendiang Raja Jinji. Di saat yang sama, Bidam di hadapan Putri Deokman (Lee Yo-won) menyebut bahwa dirinya dan Mishil tidak punya hubungan apa-apa.
Posisi Mishil dan Putri Deokman mulai berimbang, satu-satunya yang bisa membedakan keadaan adalah apabila kubu Mishil menarik pasukan dari benteng Seokham untuk ikut membantu. Namun, dengan tegas Mishil melarang anak buahnya untuk melibatkan benteng Seokham dalam perseteruannya dengan Putri Deokman.
Saat tengah berdiskusi dengan Putri Deokman, Bidam secara tidak sengaja mendengar saran Jukbang (Lee Moon-shik). Di rapat, Bidam mengusulkan satu cara cepat untuk menaklukkan benteng Daeya : menggunakan racun di saluran air yang menuju tempat itu. Meski brilian, usul tersebut ditentang Yushin karena itu berarti daerah sekitar Daeya tidak akan bisa ditempati selama beberapa tahun kedepan.
Sambil tersenyum, Putri Deokman menyebut bahwa strategi tersebut bakal digunakan untuk memancing kepanikan di benteng Daeya. Ketika dikonfrontir Bidam, Putri Deokman menyebut bahwa itulah cara paling tepat untuk memaksa Mishil menyerah. Setelah itu, Bidam ditugaskan untuk menyerahkan selembar surat pada sang musuh.
Mishil bukan orang bodoh. Bersama Seolwon (Jun Noh-min), ia mampu menebak bahwa desas-desus bakal diracunnya sumber air adalah strategi Putri Deokman untuk memaksanya menyerah. Rupanya Putri Doekman punya rencana sendiri : demi membangun Shilla sekaligus menuntaskan impian menyatukan Tiga Kerajaan, ia hendak mengajak Mishil untuk kembali bergabung.
Di sebuah tempat yang telah disepakati, Putri Deokman dan Mishil melakukan pertemuan. Bisa dibayangkan, bagaimana kagetnya Mishil saat Putri Deokman menyebut berniat merekrutnya kembali untuk membangun Shilla. Dengan tegas, sang putri menyebut Mishil tidak akan punya kesempatan untuk menguasai kerajaan kecuali bila dirinya membangun dinasti dan wilayah sendiri.
Setelah itu, giliran Putri Deokman yang terkejut ketika Mishil menyebut satu-persatu daerah yang pernah ditaklukkannya di masa Raja Jinheung dan telah dianggapnya sebagai bagian dari dirinya. Dari situ, Putri Deokman sadar kalau negosiasi tidak akan berjalan mulus. Mendengar semua itu, Bidam memutuskan untuk menyusul Mishil dan membujuknya.
cr:indosiar.com