Sunday, January 10, 2010

The Great Queen Seon Deok Episode 44



Usulan Putri Deokman (Lee Yo-won) dengan cepat terdengar hingga ke telinga Chunchu (Yoo Seung-ho), yang menganggap bahwa meski terlihat simpel, aksi sang putri bisa membuka celah untuk menyebar ketidakpuasan diantara kalangan bangsawan pendukung Mishil (Go Hyeong-jeong).

Bisa ditebak, usulan Putri Deokman kembali mandek di rapat kabinet (hwabaek). Saat bertemu muka, Mishil tersenyum sambil menyebut bahwa Putri Deokman tidak sadar bahwa seandainya disetujui, usul suara mayoritas bisa balik merugikan sang putri. Setelah itu, Mishil tertawa terbahak-bahak dan mengatakan bahwa kepolosan sang putri nyaris saja membuatnya kembali bicara banyak soal strategi yang seharusnya disimpan rapat.

Dari sekian banyak hwarang, hanya Seokpum (Hong Kyung-in) yang benar-benar setia dan terus menurut pada Mishil. Di kediamannya, Mishil mengaku sadar kalau apa yang dikatakan Putri Deokman benar, dan yang bakal dilakukannya pertama kali setelah merebut kekuasaan adalah menghapus rapat kabinet dengan sistem yang ada karena dianggap sudah tidak berguna lagi.

Pemikiran yang sama ternyata juga dirasakan oleh Putri Deokman, yang setuju dengan usulan Chunchu bahwa pengambilan keputusan lewat rapat kabinet hanya akan memperlambat kemajuan kerajaan Shilla. Mereka tidak sadar bahwa saat tengah mempersiapkan strategi balasan, Mishil telah menyiapkan sebuah rencana yang sama sekali tidak disangka-sangka.

Dari sekian banyak pendukung, hanya Misaeng (Jung Woong-in) yang menyatakan keheranannya akan pilihan yang bakal diambil Mishil. Dengan raut wajah kuatir, Misaeng menyebut bahwa tindakan tersebut bakal membuat reputasi Mishil, yang selama ini tidak pernah melawan prinsip yang dipegang, bakal tercemar. Namun, Mishil menyebut bahwa meski bakal gagal, ia bertekad untuk menyelesaikan semuanya hingga tuntas.

Sementara itu, dukungan pada kubu Putri Deokman terus bertambah tanpa sadar bahwa ada mata-mata : Jujin, jendral yang membawahi lima ribu pasukan dan ternyata masih setia pada Sejong (Dok Go-young). Malamnya, giliran Yeomjong yang diberi kejutan oleh kemunculan mendadak Mishil. Rupanya, Yeomjong diperintahkan untuk menahan Bidam saat Mishil mulai menggelar rencananya.

Kubu Mishil terus bergerak, Seolwon (Jun Noh-min) mendatangi Yongchun (Do Yi-sung) sementara Hajong (Kim Jung-hyun) mengunjungi Kim Seohyeon (Ju Sung-mo). Rupanya kedatangan dua orang dari kubu Mishil tersebut punya maksud buruk, mereka memasukkan beberapa butir obat-obatan ke minuman tuan rumah.

Setelah misinya sukses, Seolwon langsung melapor ke Mishil. Setelah itu, Mishil meminta Seolwon memberikan bungkusan berisi surat misterius yang pernah dititipkannya. Penuturan Mishil bahwa surat tersebut telah disiapkan untuk Bidam membuat Seolwon langsung terdiam, jendral itu sadar kalau sang pemegang segel kerajaan sadar akan besarnya resiko kegagalan rencana yang bakal dijalankan.

Begitu pagi tiba, dua orang prajurit utusan Sejong mengirimkan surat undangan rapat kabinet (hwabaek) yang digelar mendadak ke Yongchun dan Seohyeon. Namun karena diberi obat bius, keduanya terlambat bangun. Di saat yang sama, Yeomjong sukses menipu dan mengikat Bidam (Kim Nam-gil), yang dilakukannya atas perintah Mishil.

Berita soal rapat kabinet yang mendadak mengejutkan Putri Deokman, ia tidak sadar bahwa keadaan jauh lebih gawat dari perkiraan semula. Tanpa kehadiran Yongchun dan Seohyeon, otomatis rapat hanya dihadiri oleh orang-orang pendukung Mishil sehingga keputusan dengan suara bulat bisa tercapai.

Dengan terburu-buru, Yongchun dan Seohyeon berusaha masuk tempat rapat namun langkah mereka ditahan oleh para prajurit yang telah membuat pagar betis. Begitu mendengar berita tersebut, kubu Putri Deokman pimpinan Alcheon (Lee Seung-hyo) yang kuatir bakal terjadi pengambilan keputusan yang tidak adil mengerahkan para hwarang untuk membuka jalan supaya Yongchun dan Seohyeon.

Satu-satunya yang sadar akan strategi Mishil sebenarnya adalah Bidam, namun pria itu diikat dengan kuat oleh Yeomjong. Di saat yang sama, pasukan pimpinan Jujin bergerak ke arah Seorabol. Begitu mendengar kalau Alcheon nekat menerobos masuk balai pertemuan, Putri Deokman sangat terkejut dan langsung bergerak untuk mencegah kemungkinan terburuk.

Begitu Yushin dan Alcheon masuk dengan pedang terhunus, mereka langsung ditegur keras oleh Sejong dan Hajong. Tak berapa lama, muncul pasukan pimpinan Seolwon yang langsung berhadapan dengan para hwarang pimpinan Yushin dan Alcheon. Tidak ingin terjadi keributan, Yushin menyebut siap menerima hukuman atas kelancangannya menerobos balai pertemuan.

Baru saja keadaan tenang, tiba-tiba seorang prajurit roboh akibat panah. Keruan saja situasi memanas, masing-masing pihak menghunus pedang dan pertempuran dua kubu tidak terelakkan. Dalam keributan tersebut, Sejong luka parah akibat ditusuk Seokpum. Bisa ditebak, semua adalah bagian dari strategi Mishil.

Bertepatan dengan kabar terlukanya Sejong, pasukan pimpinan Jujin masuk ke ibukota sementara Mishil dan pasukannya melenggang masuk ke istana. Dari situ Putri Deokman dan Chunchu baru sadar, Mishil ternyata berniat untuk melakukan kudeta.

CR:INDOSIAR.COM

The Great Queen Seon Deok Episode 41-43

The Great Queen Seon Deok Episode 41

Dengan wajah pucat, Putri Deokman (Lee Yo-won) keluar dari balai pertemuan, ucapan Chunchu (Yoo Seung-ho) masih terngiang di benaknya. Saat hendak melangkah pergi, ia berpapasan dengan Chunchu, yang dengan senyum sinis mengisyaratkan kalau pertempuran baru dimulai.

Meski kontroversial, Chunchu ternyata mendapat dukungan dari Kim Yongchun (Do Yi-sung) yang menganggap penobatan sang pangeran sebagai putra mahkota jauh lebih mudah diterima oleh para bangsawan dan masyarakat dibanding seorang wanita menjadi raja. Perdebatan yang terjadi di ruangan Raja Jinpyeong (Jo Min-ki) secara tidak sengaja terdengar oleh Putri Deokman.

Begitu menghadap, Putri Deokman menyebut bahwa bila keadaan semakin kritis, ia bakal mundur demi menghindari konflik dan membiarkan Chunchu melaju sendirian sebagai putra mahkota. Ucapan itu membuat Raja Jinpyeong semakin sedih, ia tidak mengira Chunchu bakal dimanfaatkan Mishil (Go Hyeon-jeong).

Namun, Mishil yang dituduh sebagai biang keladi semuanya sendiri tengah dalam keadaan terpukul karena sama sekali tidak menyangka Chunchu bakal bicara tanpa berdiskusi lebih dulu. Saat tengah teringat dengan sosok Chunchu dan Putri Deokman yang merupakan saingannya, ia didatangi Seolwon (Jun Noh-min). Dengan senyum khasnya, Mishil menyebut bahwa dirinya sedikit kelelahan.

Di kediamannya, Sejong (Dok Go-young) dan Hajong (Kim Jung-hyun) tengah terlibat diskusi serius. Rupanya mereka mengkuatirkan posisi keluarga keduanya bakal tergeser oleh Seolwon, gelagat itu mulai terlihat berkat kedekatan Chunchu dengan Boryang (Kim Eun-bin) putri Bojong (Baek Do-bin).

Di tengah sejumlah dugaan mengenai sikap Chunchu, tokoh utama yang diduga menjadi dalang yaitu Mishil menutup diri dari semuanya termasuk orang-orang terdekatnya. Pelan-pelan, mulai terjadi konflik antara kubu Sejong dan Hajong dengan Seolwon mengenai masalah siapa yang kelak bakal menjadi pendamping Chunchu.

Situasi yang pelik membuat Yushin (Uhm Tae-woong) mulai bisa mereka-reka apa yang telah terjadi. Saat dirinya sedang berdiskusi dengan Putri Deokman tentang kemungkinan terburuk yang dipikirkannya, Chunchu menghadap Raja Jin-pyeong, yang memberitahu bahwa orang yang telah diperalat Mishil tidak akan pernah menduduki tahtanya.

Setelah mendapat teguran dari Sejong, Seolwon melarang Chunchu untuk bertemu dengan Boryang. Setelah itu, Seolwon memanggil para hwarang yang setia padanya. Chunchu sendiri tidak tinggal diam, ia menemui Yeomjong dan meminta pria banyak akal itu untuk melakukan sesuatu untuk dirinya.

Aksi saling menggalang dukungan mulai dilakukan oleh pihak Sejong dan Seolwon, situasi tersebut terbaca oleh Putri Deokman, yang keheranan melihat Mishil belum bertindak apapun untuk melerai potensi konflik yang bakal terjadi.

Saat malam tiba, Seolwon dan Bojong mendapat berita mengejutkan : Boryang diculik orang yang tidak dikenal. Keruan saja keduanya langsung mencurigai pihak Sejong sebagai pelaku, padahal di saat yang sama Boryang baru saja dibebaskan dari sebuah gudang terpencil oleh Chunchu.

Di saat yang sama, Mishil yang baru saja terbangun mendapat kunjungan dari Bidam (Kim Nam-gil). Penjelasan Bidam bahwa Putri Deokman tidak akan termakan siasat Mishil yang hendak mengadu domba hanya membuat wanita itu tersenyum. ia sadar kalau sang hwarang mendatangi kediamannya atas inisiatif sendiri.

Konflik antara kubu Sejong dan Seolwon akhirnya pecah lewat sebuah pertengkaran, kejadian tersebut terlihat oleh Alcheon (Lee Seung-hyo) yang langsung melaporkan semuanya pada Putri Deokman. Berbeda dengan pandangan Alcheon, Putri Deokman mampu menebak bahwa dalang dibalik penculikan Boryang adalah Chunchu.

Untuk melepaskan beban pikiran yang semakin menghimpit, Mishil sengaja bergerak ke luar kota dengan hanya ditemani oleh Bidam, Chilseok (Ahn Kil-kang) dan sejumlah prajurit. Berbeda dengan biasanya, kali ini Mishil meminta Bidam untuk menuntunnya.

Kejutan dilakukan Chunchu, ia mendatangi Raja Jinpyeong untuk menyampaikan kabar bahwa dirinya dan Boryang telah menikah. Ucapan itu keruan saja membuat Sejong geram, ia merasa ditikam dari belakang oleh Seolwon.

Tak lama kemudian muncul Putri Deokman dan Yushin, yang langsung melempar pandangan tidak percaya. Sang putri langsung teringat akan sejumlah kejadian sebelumnya, ia sadar bahwa Chunchu yang ada dihadapannya bukan pemuda biasa yang polos.


The Great Queen Seon Deok Episode 42

Saat bicara empat mata, Chunchu (Yoo Seung-ho) menyebut telah memperhitungkan semua kemungkinan dan Mishil (Go Hyeon-jeong) sekalipun tidak bisa mencegahnya. Namun, Putri Deokman (Lee Yo-won) yang lebih berpengalaman tahu bahwa masih ada satu kemungkinan yang bisa terjadi.

Melihat gerak-gerik Chunchu, Seolwon (Jun Noh-min) sadar kalau dirinya dan Bojong (Baek Do-bin) telah dijadikan pion. Namun saat berusaha meyakinkan Sejong (Dok Go-young) dan putranya Hajong (Kim Jung-hyun), ucapannya sama sekali tidak dipercaya. Kekuatiran Seolwon makin menjadi saat tahu Mishil pergi dari Seorabol untuk menyepi dan tidak diketahui keberadaannya.

Yang membuat semua pihak heran, Mishil sama sekali belum bertindak apapun untuk menghadang aksi Chunchu yang memecah-belah kubunya. Sadar kalau keberadaan Mishil bakal menjadi langkah penting, Putri Deokman memerintahkan para bawahannya untuk menguntit Seolwon dan rekan-rekan Mishil yang lain.

Di saat yang sama, Chunchu menjalankan strategi selanjutnya: membujuk Jukbang (Lee Moon-shik) untuk bergabung dengannya. Meski menolak, Jukbang sempat goyah ketika Chunchu memberinya banyak uang. Tidak cuma itu, Chunchu juga berhasil membuat Misaeng (Jung Woong-in), yang tiba-tiba muncul, mati kutu dengan menyebut dirinya sudah tahu bahwa pria yang merupakan adik Mishil itu adalah dalang dibalik kematian Putri Cheonmyeong.

Ketika Putri Deokman tengah cemas memikirkan Mishil, wanita yang tengah dicari banyak orang tersebut telah sampai ke tempat tujuan dimana dirinya selalu datang saat tengah berada dalam kondisi gundah-gulana. Kepada Bidam (Kim Nam-gil), Mishil menceritakan tentang masa lalunya dan beberapa orang kepercayaan mendiang Raja Jinheung. Dari obrolan tersebut, Bidam bisa melihat sisi lain dari sosok Mishil yang selama ini ditakuti dan dicintai banyak orang.

Di Seorabol, konflik antara kubu Seolwon dan Sejong semakin tajam setelah masing-masing pihak menggalang pasukan yang bakal saling berhadapan. Di bawah komando Bojong, mereka menciduk Sejong di kediamannya. Begitu mendengar apa yang terjadi, Hajong menggelar aksi balasan dengan menyergap Seolwon.

Ketika berada di tahanan, Seolwon kembali berusaha meyakinkan Hajong, yang cuma tertawa sinis, kalau mereka sama-sama telah dimanfaatkan oleh Chunchu. Sempat tidak percaya, Hajong langsung terdiam ketika Seolwon mengingatkan pria itu kalau seandainya Mishil ada disana, ia tidak akan membiarkan terjadi perpecahan diantara kedua kubu pendukungnya.

Pelan tapi pasti, hubungan Mishil dan Bidam semakin dekat, dan tanpa disadari Mishil terus mempengaruhi pria itu dengan pola-pola pemikirannya. Sadar kalau Bidam telah jatuh cinta pada Putri Deokman, Mishil cuma tesenyum ketika pria yang sebenarnya adalah putranya tersebut menyebut bakal membantu sang putri untuk memenuhi impian para pendahulu Shilla yaitu menyatukan tiga kerajaan.

Sebuah ucapan Bidam membuat Mishil seolah terbangun dari tidur, dengan senyum khasnya ia memberi isyarat bakal memulai awal baru. Belum lama pembicaraan selesai, Mishil diberitahu kalau dirinya mendapat kunjungan dari Putri Deokman.

Pembicaraan serius antara kedua wanita paling berkuasa di Shilla itu dimulai. Dengan wajah serius, Putri Deokman menyebut heran akan sikap Mishil, musuh sekaligus orang yang paling dipercayainya, yang tidak mengambil tindakan apa-apa atas tindakan Chunchu atau perpecahan yang terjadi antara Sejong dan Seolwon.

Wajah Mishil langsung berubah menyeramkan begitu mengatakan bahwa meski Putri Deokman tengah berada di jalur kemenangan, ia tidak akan menyerah begitu saja atau mengaku kalah. Tidak cuma itu, Mishil mengaku siap kembali berkompetisi dengan Putri Deokman sambil mempertaruhkan segala yang dimiliki.

Setelah berbicara dengan Putri Deokman, Mishil membulatkan tekad untuk kembali ke Seorabol. Sadar kalau keadaan semakin genting, Putri Deokman mendatangi Chunchu yang tengah berada di kediaman Yeomjong. Kepada Yushin (Uhm Tae-woong) dan Bidam, Putri Deokman memberi isyarat supaya dirinya ditinggal berdua dengan Chunchu.

Begitu mendengar penjelasan Putri Deokman, Chunchu terperangah, ia sama sekali tidak menyangka kalau tindakannya malah membangunkan naga tidur dalam diri Mishil. Dugaan sang putri tidak salah, kemunculan Mishil mampu meredam konflik kubu Sejong dan Seolwon, dan pertempuran bakal memasuki babak baru.


The Great Queen Seon Deok Episode 43

Dugaan Putri Deokman (Lee Yo-won) tidak salah. Di saat yang sama, Mishil (Go Hyeon-jeong) muncul untuk melerai Sejong (Dok Go-young) dan Seolwon (Jun Noh-min) bahwa dirinya tidak akan lagi menggunakan orang lain untuk memuluskan langkahnya menuju tahta kerajaan Shilla.

Dengan wajah yakin, Mishil menyebut dirinya siap menjadi penguasa Shilla yang baru. Setelah mengatakan hal yang mengejutkan tersebut, Mishil berlutut sambil memohon supaya Sejong dan Seolwon mau membantunya. Rasa kaget juga dirasakan Misaeng (Jung Woong-in) yang notabene adalah adik Mishil sendiri, ia sama sekali tidak menyangka sang kakak berani mengambil langkah berani.

Di kediamannya, Putri Deokman mulai menyusun strategi bersama Yushin (Uhm Tae-woong) dan Bidam (Kim Nam-gil). Sang putri sadar bahwa lawan mereka kali ini bukan orang sembarangan, meskipun ada kemungkinan bahwa niat Mishil tersebut bakal membuat kaum bangsawan yang semula mendukung sang pemegang segel kerajaan bakal terpecah.

Untungnya, Putri Deokman sudah mempersiapkan strategi khusus. Kepada Raja Jinpyeong (Jo Min-ki), sang putri mengusulkan supaya diadakan pengubahan aturan pajak yang baru. Begitu dijelaskan apa yang menjadi alasan, Raja Jinpyeong yang ditemani oleh Kim Yongchun (Do Yi-sung) dan Kim Seohyeon (Ju Sung-mo) tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

Begitu mendapat persetujuan, Putri Deokman langsung bergerak cepat. Dengan bantuan Bidam dan Yeomjong, ia mampu mengumpulkan data para bangsawan secara lengkap mulai dari luas tanah yang dimiliki, kepada siapa mereka memihak, hingga hubungan kekerabatan. Hal yang sama juga tengah dilakukan oleh kubu Mishil, mereka berusaha memastikan bahwa bangsawan yang mempunyai pengaruh besar masih tetap setia.

Saat ditanya tentang Chunchu (Yoo Seung-ho), Mishil hanya tersenyum. Pembalasan yang dilakukan Mishil terhadap sang pangeran ternyata sangat telak, dengan enteng wanita itu mengaku bahwa dirinyalah yang membuat Chunchu kehilangan kakek (Raja Jinji), ayah (Kim Yongsu), dan ibu (Putri Cheonmyeong). Ucapan tersebut mampu membuat tubuh Chunchu bergetar, dan sadar kalau ia tidak mampu menghadapi Mishil sendirian.

Ketika secara tidak sengaja bertemu Putri Deokman, Chunchu masih menunjukkan kesombongan seolah dirinya tidak butuh bantuan sang bibi. Namun, penuturan Putri Deokman yang sekaligus mengajaknya untuk bekerja sama membuat Chunchu tidak bisa berkelit lagi.

Chunchu membuktikan ke arah mana dirinya berpihak ketika muncul di tengah rapat Putri Deokman dan para bawahannya sambil menyampaikan analisis mendalam yang membuat kagum semua yang hadir. Saat bicara berdua, Chunchu tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihan yang dirasakannya setelah tahu kalau keluarganya dibunuh oleh Mishil. Sadar betapa perihnya hati sang keponakan, Putri Deokman langsung memeluk Chunchu.

Kehadiran Chunchu benar-benar membuat kubu Putri Deokman semakin kuat, mereka telah berhasil menyusun peraturan pajak yang baru dan berniat untuk menyampaikannya di rapat kabinet. Kali ini, yang diajukan adalah penyesuaian dimana besarnya pajak yang harus dibayar adalah berdasarkan luas tanah yang dimiliki.

Seperti yang bisa ditebak, usulan tersebut sukses membuat bangsawan yang memiliki luas tanah terbatas mulai goyah. Dukungan juga didapat dari rakyat, yang berkat provokasi Jukbang langsung menyuarakan dukungan terhadap Putri Deokman. Hal sebaliknya dirasakan oleh para bangsawan kaya-raya, reaksi paling keras dilontarkan oleh Hajong (Kim Jung-hyun).

Namun kubu Mishil tidak bodoh, mereka sadar bahwa usulan pajak yang baru diciptakan Putri Deokman untuk memecah-belah dukungan terhadap kubu mereka. Yang paling terasa adalah para pentolan kelompok hwarang, dimana salah seorang diantaranya Wangyun mulai beralih ke kubu Putri Deokman sementara yang lainnya mendatangi Sejong untuk meminta pria itu mempertimbangkan usulan pajak yang baru.

Angin segar mulai dirasakan kubu Deokman ketika salah seorang jendral berpengaruh Jujin meminta waktu untuk bertemu. Siapa sangka, Mishil tidak kalah cerdik. Ia meminta Sejong dan para anggota dewan kabinet yang mendukung dirinya untuk menyetujui usulan pajak yang baru. Selain itu, ia juga menyuruh para bawahannya untuk melakukan pendekatan langsung pada para bangsawan yang memiliki pengaruh besar.

Rapat dewan akhirnya digelar dengan disaksikan oleh penduduk Shilla, dan kubu Mishil bergerak cepat. Karena keputusan rapat baru bisa dilaksanakan bila semua anggota dewan setuju, dengan sengaja para anggota yang mendukung Mishil menyisakan satu suara tidak setuju sehingga mereka mampu lolos dari strategi Putri Deokman yang hendak membuka keborokan para anggota.

Sadar kalau strateginya dimentahkan, Putri Deokman berdiri dan mengajukan usul baru : penentuan keputusan tidak lagi berdasarkan suara bulat melainkan atas dasar mayoritas. Bisa dibayangkan, reaksi beragam langsung muncul terhadap permintaan tersebut. Pasalnya, suara bulat di rapat dewan adalah salah satu tradisi Shilla yang paling tua.



CR:INDOSIAR.COM

Tuesday, January 5, 2010

The Great Queen Seon Deok Episode 40

Sadar betapa beratnya beban Putri Deokman (Lee Yo-won), Yushin (Uhm Tae-woong) berusaha menguatkan sang putri sambil mengingatkan bahwa apa yang telah dilalui adalah salah satu cobaan sebagai pemimpin. Rupanya, kejadian serupa juga pernah dialami Mishil (Go Hyeon-jeong).

Begitu kembali ke istana, wajah muram Putri Deokman dilihat oleh Bidam (Kim Nam-gil). Sambil tersenyum polos, hwarang itu mengingatkan bahwa sang putri tidak perlu berusaha meniru Mishil, yang bisa membunuh orang tanpa berkedip. Dengan keceriaannya, Bidam berusaha mengembalikan keceriaan Putri Deokman.

Demi memastikan penduduk benteng Angang memenuhi janji mereka, Putri Deokman menugaskan Yushin untuk terus mengawasi perkembangan disana. Belum selesai bicara, tiba-tiba muncul Sohwa (Seo Young-hee) yang meminta Putri Deokman untuk segera menuju istana Ingang dimana Raja Jinpyeong (Jo Min-ki) berada.

Sadar kalau penyakit jantungnya semakin parah, Raja Jinpyeong bertekad untuk menikahkan Putri Deokman secepatnya dan menunjuk menantunya kelak sebagai putra mahkota. Menurut rencana, pengumuman tersebut bakal disampaikan di depan semua bangsawan.

Meski berusaha terlihat kuat, Putri Deokman tidak bisa menyembunyikan tangannya yang terus bergetar. Begitu melihat keadaan tersebut, Bidam langsung mendekati sang putri dan menggenggam tangannya erat-erat. Putri Deokman langsung tersenyum lebar, ia merasa sangat senang karena Bidam benar-benar mampu menghiburnya.

Kedekatan Putri Deokman dan Bidam terlihat oleh Seolwon (Jun Noh-min), yang langsung melaporkannya pada Mishil. Namun begitu menyebut nama hwarang itu sebagai salah satu kandidat pendamping Putri Deokman, Mishil langsung bereaksi keras. Rupanya meski sudah tahu kalau Bidam adalah putranya, Mishil tidak menganggapnya sebagai ancaman serius.

Saat berusaha memastikan kalau Putri Deokman tidak akan memilih kandidat yang bakal menyusahkan di kemudian hari, Sejong (Dok Go-young) dan Sejong (Kim Jung-hyun) mendapat kabar gembira : Youngmo (Qri) istri Yushin tengah mengandung. Otomatis, hal itu mengeliminir kemungkinan Yushin berpaling ke Putri Deokman.

Saat pengumuman disampaikan, tiba-tiba muncul Putri Deokman. Ucapannya membuat para bangsawan terkejut : Putri Deokman menyatakan tidak akan pernah menikah dan bakal meneruskan penerus tahta alias pengganti Raja Jinpyeong. Ucapan tersebut membuat Mishil terpukul, lagi-lagi ia kalah adu strategi dengan Putri Deokman.

Meski ditentang oleh nyaris semua pihak, Raja Jinpyeong sadar kalau garis keturunan raja yang diwarisi Putri Deokman-lah yang bisa membuatya bisa memenuhi impian sebagai ratu pertama dalam sejarah kerajaan Shilla.

Berita soal Putri Deokman yang berniat menggantikan Raja Jinpyeong dengan cepat tersebar, Chunchu (Yoo Seung-ho) yang tengah berada didekat Borang (Park Eun-bin) secara tidak sengaja mendengar dan sangat terkejut. Penolakan juga disampaikan oleh Wolya (Joo Sang-wook) dan Seolji (Jung Ho-geun), yang sejak semula berharap supaya Yushin tampil sebagai pendamping sang putri.

Ketika diberitahu oleh Bidam soal Putri Deokman, Yeomjong terkejut dan menyebut bahwa dari pengalamannya berkelana ke sejumlah negara, seorang wanita yang memimpin sebuah kerajaan bukanlah hal aneh. Sempat gembira, wajah Bidam langsung berubah begitu mendengar bahwa wanita yang dimaksud (Cleopatra) malah membawa kerajaan yang dipimpinnya menuju gerbang kehancuran.

Rupanya, Yeomjong diam-diam bekerja pada Chunchu. Begitu mendengar tentang kedatangan Bidam, Chunchu memerintahkan Yeomjong untuk bisa membujuk pria itu bergabung ke kubunya. Yeomjong memang pria banyak akal, ia langsung membisikkan rencananya pada Chunchu.

Dengan gayanya yang khas, Chunchu mengajak Bidam bicara empat mata dan menyebut bahwa meski belum pernah ada raja yang tidak berasal dari keturunan seonggol (keturunan langsung raja) atau kaum wanita, salah satu dari dua hal yang disebutkannya bakal jadi kenyataan di masa depan. Setelah bicara dengan Bidam, Chunchu menjalankan strategi berikutnya dengan mendatangi kediaman Mishil.

Keesokan harinya, digelar rapat kabinet untuk membahas soal peluang Putri Deokman menjadi penguasa Shilla. Perdebatan sengit sempat terjadi, sampai Mishil angkat bicara. Rupanya, wanita itu punya calon lain untuk pewaris tahta yang baru : Chunchu.

Kehadiran Chunchu membuat Raja Jinpyeong dan Putri Deokman terkejut, mereka tidak menyangka bahwa sang pangeran bakal ikut terjun dalam bursa persaingan pewaris tahta. Tiba-tiba Putri Deokman teringat akan pembicaraannya dengan sang keponakan, dan baru sadar apa tujuan Chunchu kembali ke Shilla.

Dengan penuh semangat, Mishil mengajukan alasannya mengajukan Chunchu sebagai calon pewaris tahta. Namun belum selesai bicara, ucapannya dipotong Chunchu, yang dengan berani mengucapkan kalimat yang membuat semuanya terperanjat.




cr:indosiar.com

The Great Queen Seon Deok Episode 39



Seperti yang diduga, keadaan pasar menjadi kacau dan harga pangan mulai anjlok. Keadaan tersebut diamati dengan cermat oleh Yeomjong, yang atas perintah Bidam (Kim Nam-gil) diminta untuk mulai membeli secara besar-besaran begitu harga mencapai jumlah sepuluh nyang.

Perdebatan antara Putri Deokman (Lee Yo-won) dan Mishil (Go Hyeon-jeong) kembali memanas. Menyebut bahwa kaum bangsawan adalah pilar bagi Shilla, Mishil terkejut saat mendengar ucapan sang putri bahwa meski kepintaran dan strateginya tidak terkalahkan, kehadiran Mishil ternyata tidak mampu membuat Shilla sepeninggal mendiang Raja Jinheung menjadi lebih maju.

Sambil mengamati gerakan Yeomjong, yang terus memuji kecekatan Putri Deokman dalam berdagang, Kim Chunchu (Yoo Seung-ho) mulai menanyakan soal peta Tiga Kerajaan. Namun, wajah sang pangeran langsung berubah ketakutan begitu melihat kemunculan Bidam.

Rapat kabinet akhirnya digelar demi menegur Putri Deokman yang dianggap telah lancang menggunakan persediaan pangan prajurit. Namun, dengan jitu Putri Deokman mampu membeberkan bukti-bukti yang membuat kubu Mishil mati kutu. Bahkan, nyaris saja terjadi baku pukul antara Hajong (Kim Jung-hyun) dan Yongchun (Do Yi-sung).

Meski sudah memenangkan duel strategi dengan Mishil, Putri Deokman ternyata tidak langsung puas dan kembali menenggelamkan diri di tumpukan buku-buku perpustakaan istana. Di saat yang sama, ucapan sang putri terus terngiang-ngiang di telinga Mishil. Paginya, Mishil langsung menuju perpustakaan dan sedikit terkejut melihat Putri Deokman tertidur disana.

Putri Deokman langsung terbangun akibat keributan yang ditimbulkan oleh kemunculan Bidam dan Chunchu. Gadis itu sempat terdiam ketika Mishil berbicara soal kedekatan Chunchu dan Misaeng (Jung Woong-in), namun wajahnya kembali berseri ketika Bidam menyebut bahwa putra mendiang Putri Cheonmyeong itu ikut membantu saat pembelian bahan pangan di pasar.

Tak lama setelah Putri Deokman mendapat ijin untuk menggunakan logam terbaik kerajaan demi memperbaiki kualitas alat pertanian, terjadi pemberontakan di benteng Angang yang merupakan kekuasaan Sejong (Dok Go-young). Rupanya, semua berawal ketika petani mengalami gagal panen akibat hama. Di tengah penderitaan tersebut, tuan tanah dan pemerintah setempat menolak untuk menurunkan pajak.

Sadar kalau situasi tersebut disengaja, Putri Deokman mengajak Sejong dan Hajong untuk bicara mengenai situasi di benteng Angang. Namun, dengan licik keduanya mengajukan usul supaya pajak terhadap mereka dihilangkan demi menyelamatkan rakyat di benteng Angang.

Demi menyelesaikan masalah, Putri Deokman bertekad untuk datang sendiri ke benteng Angang dan menemui pimpinan pemberontak yang menahan pimpinan benteng Angang. Tindakan sang putri tidak cuma membuat bawahannya kelabakan, namun juga membuat Mishil kaget.

Dengan bantuan Yushin (Uhm Tae-woong), Putri Deokman berhasil menemui perwakilan rakyat benteng Angang yang dipimpin oleh seorang pria berusia lanjut. Dari pria tersebut, Putri Deokman diberitahu bahwa tindakan semena-mena penguasa-lah yang membuat rakyat nekat memberontak.

Tidak cuma bakal mengembalikan hasil panen yang biasanya dibayarkan ke pemerintah, Putri Deokman juga menjanjikan alat-alat pertanian berkualitas bagi para penduduk ditambah kesempatan untuk lepas dari perbudakan yang selama ini menghantui.

Sayangnya kepercayaan yang diberikan pada sang putri disia-siakan, para penduduk benteng Angang malah melarikan diri sambil membawa semua barang-barang mereka dan alat pertanian pemberian kerajaan. Kegagalan tersebut membuat Mishil tertawa terbahak-bahak. Di kesempatan terpisah, ia menegur Putri Deokman yang dianggap terlalu naif.

Sindiran Mishil tidak membuat Putri Deokman marah, sambil tersenyum ia malah menyebut bahwa itulah alasan kenapa Mishil tidak bisa memajukan Shilla : karena wanita itu tidak mempunyai kapasitas sebagai pemimpin pemerintahan. Ucapan pedas tersebut kontan membuat tubuh Mishil bergetar hebat.

Dibalik ketegasannya, Putri Deokman ternyata menyembunyikan kegeramannya karena telah ditipu oleh para penduduk benteng Angang. Meski dengan berat hati, sang putri akhirnya mengambil langkah drastis : mengeksekusi dua pimpinan rakyat yang melarikan diri dengan tangannya sendiri

cr:indosiar.com

Sunday, January 3, 2010

The Great Queen Seon Deok Episode 38



Kesal dengan sikap Chunchu (Yoo Seung-ho) yang kekanak-kanakan, Bidam menggunakan sarung pedangnya untuk menghajar pemuda yang tidak tahu diri itu. Tidak hanya sampai disana, Bidam juga menyuruh Chunchu kembali menyusun lembaran kertas yang telah disobeknya.

Sempat keluar ruangan bersama Yeomjong untuk mencari tahu alasan keberadaan Chunchu, Bidam kembali dibuat kesal karena saat kembali, pemuda itu tengah tertidur. Tiba-tiba Bidam tersadar sesuatu : Chunchu mampu mengingat halaman buku yang disobek dan menyusunnya sesuai dengan urutan. Dari situ ia sadar kalau Chunchu bukan pemuda biasa.

Hal terakhir yang harus diselesaikan oleh Bidam adalah membunuh Yeomjong, otak dibalik kematian Munno. Namun di tempat sepi, Yeomjong malah tertawa dan menyebut kalau dirinya dan Bidam sama-sama bertanggung jawab. Meski kesal, Bidam sadar kalau ucapan tersebut benar adanya.

Usai melampiaskan kekesalannya dengan memukul Yeomjong habis-habisan, Bidam mulai tergoda ketika pria itu berjanji bakal menggunakan kumpulan mata-mata miliknya untuk memenuhi ambisi putra Mishil tersebut. Sebagai tanda mata, Bidam menggores wajah Yeomjong sambil mengancam supaya tidak berani menentangnya.

Setelah pelantikan Yushin (Uhm Tae-woong) sebagai pungwolju, Putri Deokman (Lee Yo-won) mulai mencari tahu alasan kenapa kerajaan Shilla yang teritorinya luas belum bisa makmur. Dari penuturan Yongchun (Do Yi-sung), baru ketahuan kalau selama ini lahan tidak pernah dikelola dengan baik karena kualitas alat pertanian yang buruk.

Masalah pangan mulai mencuat ketika harga-harga merangkak naik, bahkan sempat terjadi kemelut di pasar yang berakibat terbunuhnya seorang pedagang. Bersama para bawahannya, Putri Deokman memutuskan untuk mengecek keadaan pasar. Terjadi keanehan : meski mempunyai stok barang, para pedagang menolak menjual bahan pangan milik mereka.

Mengikuti gerakan beberapa pedagang, Jukbang (Lee Moon-shik) dan Godo (Ryu Dam) melihat kereta berisi bahan pangan masuk ke rumah milik Seolwon (Jun Noh-min) dan Bojong (Baek Do-bin). Hal yang sama ternyata juga dilakukan oleh Hajong (Kim Jung-hyun), yang membeli bahan makanan dalam jumlah besar.

Jukbang langsung melaporkan apa yang ditemuinya dan Putri Deokman berhasil mengambil kesimpulan : para bangsawan sengaja menimbun barang hingga harga tinggi sebelum kemudian kembali dijual alias bermain spekulasi. Sayangnya ketika dilaporkan ke Raja Jinpyeong (Jo Min-ki), sang raja tidak bisa berbuat banyak karena praktek tersebut telah berlangsung puluhan tahun.

Terus-menerus kabur dari pelajaran dan kerap kedapatan tengah bersenang-senang di kediaman Borang (Park Eun-bin), Chunchu akhirnya kena batunya. Oleh Yushin, seorang guru baru ditempatkan untuk mendidik sang pangeran : Bidam.

Berusaha mendapat pemecahan yang memuaskan, Putri Deokman mendatangi kediaman Mishil (Go Hyeon-jeong). Seperti yang telah diduga, Mishil mampu melontarkan pertanyaan yang membuat Putri Deokman harus berpikir keras. Sambil berdiskusi dengan Yushin, Putri Deokman akhirnya mulai mengerti bahwa tujuan lain dari permainan spekulasi yang dilakukan para bangsawan adalah demi mempengaruhi sentimen publik terhadap raja.

Bukan Putri Deokman namanya kalau tidak memikirkan penyelesaian masalah, apalagi dirinya sempat cukup lama hidup di lingkungan kaum pedagang. Atas ijin Raja Jinpyeong, Putri Deokman berhasil menggunakan persediaan pangan istana untuk menghadapi permainan spekulasi para bangsawan.

Begitu tahu langkah Putri Deokman, kubu Mishil sangat terkejut. Yang jadi korban adalah para bawahannya yang tidak mempunyai persediaan dana yang kuat, mereka mulai menjual beras yang ditimbun hingga otomatis harga di pasar jatuh.

Rapat kabinet langsung digelar, dengan terang-terangan Sejong (Dok Go-young) menyatakan keberatan atas keberanian Putri Deokman menggunakan persediaan pangan kerajaan untuk ikut bermain spekulasi. Namun, sang putri hanya tersenyum sambil menyebut kalau dirinya punya cara untuk bisa mendapatkan kembali stok yang dijual.

Mishil yang mulai mengerti akan langkah Putri Deokman menyatakan kalau sang rival tidak akan bisa bertahan lama. Bisa dibayangkan, bagaimana reaksi Mishil dan Sejong saat tahu Putri Deokman berniat menjual semua persediaan pangan istana...termasuk stok yang biasa digunakan untuk berjaga-jaga seandainya terjadi perang.



cr:indosiar.com

Thursday, December 31, 2009

The Great Queen Seon Deok Episode 37



Berusaha menutupi kegundahannya, Putri Deokman (Lee Yo-won) mendatangi kediaman Mishil (Go Hyeon-jeong) untuk memberi selamat atas rencana pernikahan Yushin (Uhm Tae-woong) dan Yeongmo (Qri). Namun, keduanya sama-sama tahu bahwa Yushin tidak akan semudah itu beralih ke kubu Mishil.

Di luar saat bertemu Yushin, Putri Deokman menyesalkan keputusan pria itu untuk merapat ke kubu Mishil demi menyelamatkan bangsa Gaya. Sang putri sangat terkejut saat mendengar bahwa tujuan Yushin adalah mengabdi untuk kerajaan Shilla sambil berharap sang putri kelak bisa menjadi penguasa yang jauh lebih baik dari para pendahulunya.

Di kediaman Bojong (Baek Do-bin), Misaeng (Jung Woong-in) dan Seolwon (Jun Noh-min) sibuk mendandani Borang (Park Eun-bin) sebelum gadis itu dipertemukan dengan Kim Chunchu (Yoo Seung-ho). Tujuannya hanya satu : memastikan sang pangeran tertarik dengan putri Bojong tersebut sehingga kelak sosoknya merapat ke kubu Mishil.

Konflik antara Munno (Jung Ho-bin) dan Bidam (Kim Nam-gil) kembali pecah saat sang murid mempertanyakan pilihan Munno untuk menyerahkan peta geografi tiga kerajaan pada Yushin. Dengan marah, Munno menyebut bahwa hal itu dilakukannya karena dirinya tidak mempercayai Bidam, yang dianggap sangat mirip Mishil.

Belum usai soal masalah Yushin yang bakal menikah dengan cucu Mishil, Putri Deokman dipusingkan oleh Chunchu yang kerap bermain-main dan menolak belajar saat dididik Alcheon (Lee Seung-hyo). Tahu kalau sang putri tengah bersedih, Sohwa (Seo Young-hee) berusaha menghibur dengan menunjukkan boneka yang mengingatkan keduanya akan kehidupan di gurun.

Geram karena sang guru dianggap telah bertindak tidak adil, Bidam mencegat Munno yang tengah membawa peta tiga kerajaan dan menantang pria itu untuk berduel. Pertarungan sempat berjalan seimbang...sampai Munno mengeluarkan jurus andalannya dan membuat Bidam keteteran.

Namun dari semak-semak, seorang pria bertopeng sukses meniupkan jarum beracun ke Munno, yang langsung ambruk. Sempat menyatakan penyesalannya karena gagal menjadi guru yang baik, Munno berpesan supaya Bidam mengikuti jejak Yushin dan mengabdi pada Putri Deokman. Tak lama kemudian, Munno menghembuskan napas terakhirnya.

Tingkah laku Chunchu yang membuat semua orang jengkel semakin menjadi-jadi, kali ini ia menghina Yushin saat pria itu tengah mengajarinya cara berduel dengan pedang. Dengan sengaja, Chunchu menyebut Yushin sebagai pria oportunis. Sikap sinis Chunchu malah membuat Yushin tersenyum, ia langsung teringat dengan pertemuan pertamanya dengan mendiang Putri Cheonmyeong.

Di tengah rapat membahas para hwarang, tiba-tiba Bidam muncul dengan pakaian rapi. Sambil membawa surat pengantar dari Munno, Bidam menyebut siap tinggal di Seorabol sebagai pewaris sang guru yang telah kembali ke Gunung Taebaek.

Setelah menyatakan kesiapannya menjadi hwarang, Bidam menjalankan niatnya yang lain : membantai Yeomjong, dalang dibalik meninggalnya sang guru. Namun pria itu ternyata cukup cerdik, ia mampu membuat Bidam mengurungkan niatnya.

Dibawah todongan pedang, Bidam meminta Yeomjong untuk menunjukkan dimana peta geografi tiga kerajaan disembunyikan. Namun begitu sampai disana, lembaran-lembaran peta tersebut ternyata telah digunakan sebagai mainan oleh seorang pemuda yang tidak asing lagi.

The Great Queen Seon Deok Episode 36



Yushin (Uhm Tae-woong) tidak berkutik ketika Seolwon (Jun Noh-min) menuding kalau gerakan separatis Bokyahwe telah kembali dimulai. Tudingan tersebut membuat Yushin tidak tahan lagi, namun ucapan sang hwarang malah membuat posisinya makin terpojok.

Saat bicara empat mata, Putri Deokman (Lee Yo-won) langsung membentak Mishil (Go Hyeon-jeong) dengan menyebut apa yang dilakukan kubu wanita itu terhadap Yushin adalah konspirasi terselubung. Mishil langsung tersenyum penuh kemenangan, dan langsung mengutarakan bahwa biarpun sang putri begitu mempercayai Yushin, namun asal-usulnya sebagai keturunan bangsa Gaya tidak bisa dilupakan begitu saja.

Begitu diberitahu kalau muncul keberatan yang diajukan kubu Mishil, Kim Seohyeon (Ju Sung-mo) memutuskan untuk menemui Raja Jinpyeong (Jo Min-ki) demi menyampaikan isi hatinya. Ia tidak sadar bahwa diantara anak buah kepercayaannya, ada mata-mata Mishil.

Tidak cuma dipusingkan oleh masalah Yushin, kubu istana juga dibuat kebingungan oleh sikap Kim Chunchu (Yoo Seung-ho) yang sejak pulang ke Seorabol kerap keluar dari istana bersama Misaeng (Jung Woong-in). Kesamaan keduanya, termasuk soal menunggang kuda, membuat sang pangeran cepat akrab dengan adik Mishil tersebut.

Bahkan, dengan berani Misaeng membawa Chunchu ke sebuah tempat pelesiran dan menunjukkan satu-persatu gadis terbaik disana. Diam-diam, Misaeng punya rencana sendiri untuk menarik Chunchu menjadi bagian dari kubu Mishil.

Demi mendengar langsung penjelasan Yushin, Munno (Jung Ho-bin) memanggil hwarang tersebut. Ucapan Yushin yang menyebut kalau dirinya sengaja memberikan tanah milik keluarga demi tujuan yang lebih besar yaitu mengintegrasikan bangsa Gaya sebagai bagian dari Shilla sekaligus mewujudkan cita-cita penyatuan tiga kerajaan membuat sang penasehat terkejut, ia tidak menyangka tujuan Yushin begitu mulia.

Tidak mau menyerah begitu saja, Yushin balik menggertak dengan menyebut niat Mishil dan Seolwon untuk menjadikan Bojong (Baek Do-bin) sebagai pungwolju bakal ditentang banyak pihak. Siapa sangka, Seolwon mampu memberi bukti berupa pernyataan Yushin yang menyerahkan tanahnya pada bangsa Gaya. Rupanya, bukti tersebut dicuri oleh mata-mata kubu Mishil dari kediaman Kim Seohyeon.

Dalam posisi yang semakin sulit, Putri Deokman meminta Yushin untuk mengorbankan Seolji (Jung Ho-geun). Permintaan tersebut langsung ditolak, Yushin menyebut bahwa kubu Mishil tidak akan puas dan pasti bakal meminta korban baru. Ucapan itu membuat air mata Putri Deokman jatuh, itu berarti ia harus mengorbankan Yushin.

Di kediamannya saat dikunjungi oleh Bidam (Kim Nam-gil), Putri Deokman akhirnya mengaku sambil terisak bahwa ia sangat menyesal tidak bisa menunjukkan perasaan yang sesungguhnya pada Yushin. Di saat yang sama kepada Munno (Jung Ho-bin), Yushin menyebut bakal tetap menjalankan apa yang sudah direncanakannya.

Pertemuan dengan Yushin membuat Munno berpikir ulang tentang pandangannya terhadap Putri Deokman dan siapa pewaris cita-citanya untuk menyatukan tiga kerajaan. Saat berpapasan dengan Bidam, sang murid langsung menyatakan ketidakpuasannya dengan sang guru perihal peta tiga kerajaan yang disembunyikan, namun Munno hanya bicara singkat sebelum kemudian pergi.

Saat tengah membuntuti, Bidam melihat Misaeng tengah bersama Chunchu masuk ke sebuah tempat judi. Berhasil ikut menyelinap masuk, pria itu melihat bahwa dengan sengaja Misaeng membiarkan Chunchu terus menang judi.

Dengan isyarat, Bidam memberitahu Chunchu kalau dirinya sengaja dibiarkan menang. Namun Chunchu ternyata bukanlah pria bodoh, dengan senyum khasnya ia kembali membalas isyarat tersebut dengan mengatakan kalau dirinya sudah tahu semuanya.

Usaha kubu Mishil untuk menarik Yushin supaya bisa bergabung membuat Putri Deokman sedih, bahkan usaha Sohwa (Seo Young-hee) untuk menghibur gagal. Di luar kediaman sang putri, Yushin terus berdiri sambil memandang ke dalam dengan penuh kesedihan. Setelah berpikir matang, Yushin memutuskan untuk menemui Mishil.

Setelah malam tiba, Munno memasuki sebuah rumah yang ternyata ditempati oleh Yeomjong, orang yang selama ini membantunya menyusun peta tiga kerajaan. Pada pria yang juga lihai sebagai mata-mata itu, Munno menyampaikan niatnya untuk menyerahkan peta yang dibuat pada Yushin.

Ucapan tersebut didengar oleh Bidam, yang langsung terpukul karena sang guru melanggar janji yang diucapkannya bertahun-tahun lalu. Rupanya Munno punya pertimbangan sendiri, ia terkesan dengan ketulusan Yushin yang berani mengorbankan dirinya untuk tujuan yang lebih besar.

Mendengar kalau Yushin sempat lama menunggu di luar kediamannya, Putri Deokman memutuskan untuk menyusul pria itu. Apa yang dilihat selanjutnya sama sekali tidak terbayangkan, Yushin berlutut didepan Mishil dan menyatakan siap untuk takluk.

cr:indosiar.com

Wednesday, December 30, 2009

The Great Queen Seon Deok Episode 34-35

The Great Queen Seon Deok Episode 34



Ucapan Bidam (Kim Nam-gil) yang mengaku sebagai murid Munno (Jung Ho-bin) membuat semuanya terkejut, karena itu berarti dirinya berhak tampil di kompetisi. Namun sebagai pemimpin acara, pungwolju sebelumnya Hojae (Go Yoon-hoo) menyebut bahwa jumlah peserta sudah tidak bisa ditambah lagi.

Namun, dengan sengaja Bidam memprovokasi peserta hingga salah seorang diantaranya Seonggo menghunus pedang. Belum sempat bertindak apa-apa, hwarang tersebut ambruk dan mengalami cedera sehingga tidak bisa ikut berkompetisi. Kemunculan Munno, yang menahan geram, untuk mengkonfirmasi ucapan Bidam akhirnya membuat pria itu berhak turun di kompetisi.

Dengan gayanya yang kocak, Bidam mulai memprovokasi para pentolan hwarang yang ikut bertarung Bakui (Jang Hee-woong) dan Deokchung (Suh Dong-won). Bahkan dengan nekat Bidam masuk ke dalam kemah Bojong (Baek Do-bin) dan Seokpum (Hong Kyung-in), hwarang yang bakal menjadi lawan pertamanya.

Aksi Bidam yang melancarkan perang urat syaraf ke semua pihak secara tidak sengaja terlihat oleh Putri Deokman (Lee Yo-won), yang langsung menegurnya. Saat bicara serius, Bidam mengaku bahwa apa yang dilakukannya adalah demi memastikan Yushin (Uhm Tae-woong) tampil sebagai pemenang.

Seperti yang sudah diduga, para peserta unggulan seperti Yushin, Bidam, Alcheon (Lee Seung-hyo), dan Bojong tidak kesulitan menghadapi lawan-lawan mereka. Di istana, krisis terbaru dialami oleh Raja Jinpyeong, yang sangat kaget saat tahu kalau Kim Chunchu (Yoo Seung-ho) bakal tiba di Seorabol dengan kawalan orang kepercayaan Mishil.

Berita kalau Chunchu yang adalah anak mendiang Putri Cheonmyeong bakal tiba di ibukota membuat gembira Sejong (Dok Go-young), namun wajahnya berubah saat tahu perjalanan terhambat karena satu hal : Chunchu harus ditandu karena tidak bisa menunggang kuda, kemampuan yang di masa itu wajib dimiliki seorang pria.

Penuturan tersebut membuat Misaeng (Jung Woong-in) tertawa terbahak-bahak, namun tatapan Sejong dan Hajong (Kim Jung-hyun) membuatnya tersadar akan satu hal : dirinya sama seperti Chunchu. Dengan sedikit gelagapan, Misaeng menyebut bahwa meski tidak bisa menunggang kuda, ia memiliki kemampuan lain yang bisa menutupi kelemahan tersebut.

Sifat Chunchu yang sulit diatur membuat rombongan kerajaan yang dipimpin oleh Daenambo (Ryu Sang-wook), hwarang yang bertanggung jawab atas kematian sang ibu, kerepotan. Bahkan kalau saja tidak mengingat bahwa Chunchu adalah keturunan raja, Daenambo nyaris saja menghajar pemuda itu.

Tidak kehabisan akal, Daenambo berusaha mengajari Chunchu cara menunggang kuda. Sempat gembira saat sang majikan mau menurut, Daenambo kembali dibuat kesal karena Chunchu mengaku sudah lelah meski baru saja hendak menaiki kuda. Penderitaan Daenambo semakin lengkap ketika Chunchu meminta supaya dicarikan penginapan untuk beristirahat.

Menjelang partai semifinal, para kontestan yang terdiri dari Yushin, Alcheon, dan Bojong sibuk mempersiapkan diri meski tubuh mereka lebam. Satu-satunya yang paling santai adalah Bidam, yang malah asyik tidur. Partai pertama mempertemukan Yushin dan Alcheon, yang berakhir dengan kemenangan Yushin.

Partai kedua tidak kalah seru, Bojong harus berhadapan dengan Bidam yang kemampuannya tidak boleh diremehkan. Mendapat bocoran soal kelemahan sang lawan, Bojong sengaja menyerang kaki kiri Bidam yang terluka. Sempat diatas angin, siapa sangka Bojong berhasil dikalahkan oleh Bidam yang menggunakan jurus rahasia yang dipelajarinya diam-diam dari Munno.

Wajah Munno langsung berubah saat melihat Bidam bisa mempelajari jurus andalannya, tanpa ragu Hojae mengumumkan Bidam sebagai pemenang. Namun siasat Bidam masih belum selesai, ia meminta supaya pertandingan melawan Yushin langsung digelar di hari itu.

Pertarungan keduanya berlangsung setelah matahari terbenam, baik Yushin maupun Bidam sempat mengambil ancang-ancang cukup lama sebelum memulai pertarungan. Sayangnya, Bidam sengaja mengalah sehingga pertarungan berlangsung berat sebelah.

Aksi tersebut terlihat oleh Chilseok (Ahn Kil-kang), yang langsung bicara dengan nada keras kalau pertarungan tersebut dipenuhi kecurangan. Ditengah kemelut tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria yang sudah tidak asing lagi ditengah-tengah hwarang.


The Great Queen Seon Deok Episode 35



Sebagai orang yang berhak memberi keputusan, Munno (Jung Ho-bin) membenarkan Chilseok (Ahn Kil-kang) kalau pertandingan berlangsung curang. Sebagai konsekuensinya, ronde terakhir dianggap tidak ada dan keputusan akan diambil bersama komite yang terdiri dari Hojae (Go Yoon-hoo), Mishil (Go Hyeon-jeong), dan Putri Deokman (Lee Yo-won).

Di dalam ruang rapat, perdebatan berlangsung sengit antara Putri Deokman dan Mishil. Chilseok akhirnya mengajukan usul : Yushin (Uhm Tae-woong) sebagai finalis harus menghadapinya dan bila bisa menahan 10 pukulan, maka hwarang itu dianggap sebagai pemenang.

Keputusan tersebut kontan membuat kubu pendukung Yushin pucat, sementara kubu Mishil pimpinan Seokpum (Hong Kyung-in) tersenyum senang. Dengan tubuh penuh memar, Yushin yang memegang pedang kayu dengan tangan gemetar langsung ambruk begitu mendapat serangan pertama dari Chilseok.

Namun bukan Yushin namanya kalau menyerah begitu saja, ia berusaha bangun meski dengan susah-payah. Hal itu terjadi berulang kali walau secara fisik sudah tidak memungkinkan bagi pimpinan klan Kembang Naga itu untuk bertahan. Melihat kegigihan sang bawahan, air mata Putri Deokman dan mereka yang hadir mengalir.

Teriakan pemberi semangat berkumandang yang dimulai dari klan Kembang Naga hingga terakhir Bojong (Baek Do-bin), yang notabene adalah musuh bebuyutan Yushin, ikut bersuara. Dengan sisa tenaga terakhir, Yushin akhirnya ambruk begitu pukulan kesepuluh Chilseok dilontarkan.

Siapa sangka sebelum pingsan, Yushin sempat memasukkan sebuah pukulan telak. Dengan jiwa ksatria, Chilseok mengakui kekalahannya. Pengakuan tersebut langsung disambut oleh sorak-sorai para hwarang termasuk Bojong.

Di Seorabol, Jukbang (Lee Moon-shik) yang tidak sadar dengan siapa dirinya berhadapan terus berusaha memberi pengertian pada Chunchu (Yoo Seung-ho) tentang situasi politik Shilla terutama tentang kubu-kubu yang ada di istana.

Di kediamannya, Munno telah ditunggu oleh Bidam yang terus berlutut. Mengira kalau dirinya bakal diasingkan, Bidam terperangah ketika gurunya malah bersikap sabar sambil mengatakan kalau masih banyak yang harus dipelajari oleh sang murid selain sekedar menang-kalah.

Sikap sang guru membuat Bidam bingung, namun suasana hatinya yang mulai tenang semakin kacau begitu bertemu Mishil yang langsung menyindir perbuatan pemuda itu. Mengunjungi kediaman Yushin untuk meminta maaf langsung pada Putri Deokman, wajah Bidam langsung muram begitu melihat betapa besarnya perhatian sang putri pada bawahannya tersebut.

Memanfaatkan keluguan Jukbang dan penduduk desa, Chunchu mulai bisa mengira-ngira apa saja yang telah terjadi di Seorabol. Kehadirannya sendiri belum terlacak siapapun, bahkan tak kurang dari kubu Mishil disibukkan oleh pencarian sang pangeran.

Yang menarik, Chunchu sendiri ternyata sudah tahu Daenambo (Ryu Sang-wook)-lah orang yang paling bertanggung jawab atas kematian ibunya. Begitu melihat kehadiran Daenambo, emosi Alcheon langsung meledak, keduanya nyaris saja terlibat perkelahian di tengah kota.

Namun sebelum semuanya terjadi, Chunchu muncul dan menyebut kalau dirinya sudah memaafkan Daenambo. Kemunculan Chunchu sontak langsung membuat penghuni istana gempar, terutama Putri Deokman yang sudah tidak sabar lagi melihat putra dari sang kakak.

Siapa sangka, Chunchu bersikap dingin dan secara terang-terangan menyatakan tidak butuh perhatian Putri Deokman. Dengan senyum penuh misteri, Chunchu secara tersirat menyatakan maksud dibalik kedatangannya kembali ke kerajaan Shilla.

Langkah pertama yang diambil sang pangeran sangat mengejutkan. Menolak pengawalan Alcheon, Chunchu malah lebih memilih didampingi Daenambo dan tidak menolak ketika Misaeng (Jung Woong-in) menyatakan siap menemani pemuda itu berkeliling Seorabol.

Setelah kondisinya pulih, Yushin dipanggil menghadap dewan pimpinan hwarang untuk secara resmi ditunjuk sebagai pungwolju. Siapa sangka, disana kubu Mishil yang diwakili oleh Seolwon (Jun Noh-min) mengeluarkan kartu as mereka yang langsung membuat Yushin terdiam.

Tuesday, December 29, 2009

Ucapan SELAMAT ULANG TAHUN dlm berbagai bahasa dunia



iseng-iseng... hehee..

Afrikaans : Veels geluk met jou verjaarsdag!
Albanian : Urime ditelindjen!
Alsatian : Gueter geburtsdaa!
Amharic : Melkam lidet!
Arabic : Eid milaad saeed! or Kul sana wa inta/i tayeb/a! (masculine/feminine)
Armenian :Taredartzet shnorhavor! or Tsenund shnorhavor!
Assyrian : Eida D'moladukh Hawee Brikha!
Austrian-Viennese : Ois guade winsch i dia zum Gbuadsdog!
Aymara (Bolivia) : Suma Urupnaya Cchuru Uromankja!
Azerbaijani : Ad gununuz mubarek! -- for people older than you
,
Ad gunun mubarek! -- for people younger than you
Basque : Zorionak!
Belauan-Micronesian : Ungil el cherellem!
Bengali (Bangladesh/India) : Shuvo Jonmodin!
Bicol (Philippines) : Maogmang Pagkamundag!
Bislama (Vanuatu) : Hapi betde! or Yumi selebretem de blong bon blong yu!
Brazil : ParabŽns a voc?! ,
ParabŽns a voc?, nesta data querida muitas felicidades e muitos anos de vida.
Breton : Deiz-ha-bloaz laouen deoc'h!
Bulgarian : Chestit Rojden Den!
Cambodian : Som owie nek mein aryouk yrinyu!
Catalan : Per molts anys! or Bon aniversari! or Moltes Felicitats!
Chamorro : Biba Kumplianos!
Chinese-Cantonese : Sun Yat Fai Lok!
Chinese Fuzhou : San Ni Kuai Lo!
Chiness-Hakka : Sang Ngit Fai Lok!
Chinese-Mandarin : qu ni sheng er kuai le
Chinese-Shanghaiese : San ruit kua lok!
Chinese-Tiociu : Se Jit khuai lak!
Chronia Polla : NA ZHSHS
Croatian : Sretan Rodendan!
Czech : Vsechno nejlepsi k Tvym narozeninam!!
Danish : Tillykke med fodselsdagen!
Dutch-Antwerps : Ne gelukkege verjoardach!
Dutch-Bilzers : Ne geleukkege verjoardoag!
Dutch-Drents : Fellisiteert!
Dutch-Flemish : Gelukkige verjaardag! or Prettige verjaardag!
Dutch-Frisian : Fan herte lokwinske!
Dutch-Limburgs : Proficiat! or Perfisia!
Dutch-Spouwers : Ne geleukkege verjeurdoag!
Dutch-Twents : Gefeliciteard met oen'n verjoardag!
Dutch : Hartelijk gefeliciteerd! or Van harte gefeliciteerd met je verjaardag!
English : Happy Birthday!
Esperanto : Felichan Naskightagon!
Estonian : Palju onne sunnipaevaks!
Euskera : Zorionak zure urtebetetze egunean!
Faroes ( Faroe island ) : Tillukku vid fodingardegnum!
Farsi : Tavalodet Mobarak!
Finnish : Hyvaa syntymapaivaa!
French (Canada) : Bonne Fete!
French : Joyeux Anniversaire!
Frisian : Lokkiche jierdei!
Gaelic (Irish) : L‡ breithe mhaith agat!
Gaelic (Scottish) : Co` latha breith sona dhuibh!
Galician (Spain) : Ledicia no teu cumpreanos!
Georgian : Gilotcav dabadebis dges!
German-Badisch : Allis Guedi zu dim Fescht!
German-Bavarian : Ois Guade zu Deim Geburdstog!
German-Berlinisch : Allet Jute ooch zum Jeburtstach! or Ick wuensch da allet Jute zum Jeburtstach!
German-Bernese : Es Muentschi zum Geburri!
German-Camelottisch : Ewllews Gewtew zewm Gewbewrtstewg. Mew!
German-Frankonian : Allmecht! Iich wuensch Dir aan guuadn Gebuardsdooch!
German-Lichtenstein : Haerzliche Glueckwuensche zum Geburtstag!
German-Moselfraenkisch : Haezzlische Glickwunsch zem Gebordsdach!
German-Plattdeutsch : Ick wuensch Di allns Gode ton Geburtsdach!
German-Rhoihessisch :Ich gratelier Dir aach zum Geburtstag!
German-Ruhr : Allet Gute zum Gebuatstach!
German-Saarlaendisch : Alles Gudde for dei Gebordsdaach!
German-Saechsisch : Herzlischen Gliggwunsch zum Geburdsdaach!
German-Schwaebisch : Aelles Guade zom Gebordzdag!
German-Wienerisch : Ois Guade zum Geburdsdog!
German : Alles Gute zum Geburtstag!
Greek : Eytyxismena Genethlia! or Chronia Pola!
Greenlandic : Inuuinni pilluarit!
Gronings (Netherlands): Fielsteerd mit joen verjoardag!
Gujarati (India) : Janma Divas Mubarak!
Gujrati (Pakistan) : Saal Mubarak!
Guarani (Paraguay Indian)] : Vy-Apave Nde Arambotyre!
Hawaiian : Hau`oli la hanau!
Hebrew : Yom Huledet Same'ach!
Hiligaynon (Philippines) : Masadya gid nga adlaw sa imo pagkatawo!
Hindi (India) : Janam Din ki badhai! or Janam Din ki shubkamnaayein!
Hungarian : Boldog szuletesnapot! or Isten eltessen!
Icelandic : Til hamingju med afmaelisdaginn!
Indonesian : Selamat Ulang Tahun!
Irish-gaelic : La-breithe mhaith agat! or Co` latha breith sona dhut! Or Breithla Shona Dhuit!
Italian : Buon Compleanno!
Italian (Piedmont) : Bun Cumpleani!
Italian (Romagna) :At faz tent avguri ad bon cumplean!
Japanese : Otanjou-bi Omedetou Gozaimasu! Javaans-Indonesia : Slamet Ulang Taunmoe!
Jerriais : Bouon Anniversaithe!
Kannada (India) : Huttida Habba Subashayagalu!
Kapangpangan (Philippines) : Mayap a Kebaitan
Kashmiri (India) : Voharvod Mubarak Chuy!
Kazakh (Kazakstan) : Tughan kuninmen!
Klingon : Quchjaj qoSlIj!
Korean : Saeng il chuk ha ham ni da!
Kurdish : Rojbun a te piroz be!
Kyrgyz : Tulgan kunum menen!
Latin : Fortuna dies natalis!
Latvian : Daudz laimes dzimsanas diena!
Lithuanian : Sveikinu su gimtadieniu! or Geriausi linkejimaigimtadienio progal
Luganda : Nkwagaliza amazalibwa go amalungi!
Luxembourgeois : Vill Gleck fir daei Geburtsdaag!
Macedonian : Sreken roden den!
Malayalam (India) : Pirannal Aasamsakal! or Janmadinasamsakal!
Malaysian : Selamat Hari Jadi!
Maltese : Nifrahlek ghal gheluq sninek!
Maori : Kia huritau ki a koe!
Marathi(India) : Wadhdiwasachya Shubhechha!
Mauritian Kreol : mo swet u en bonlaniverser!
Mbula (Umboi Island, Papua New Guinea) : Leleng ambai pa mbeng ku taipet i!
Mongolian : Torson odriin mend hurgee!
Navajo : bil hoozho bi'dizhchi-neeji' 'aneilkaah!
Niederdeutsch (North Germany) : Ick gratuleer di scheun!
Nepali : Janma dhin ko Subha kamana!
Norwegian : Gratulerer med dagen!
Oriya (India) : Janmadina Abhinandan!
Papiamento (lower Dutch Antilles) : Masha Pabien I hopi aña mas!
Pashto (Afganistan) : Padayish rawaz day unbaraksha!
Persian : Tavalodet Mobarak!
Pinoy (Philippines) : Maligayang kaarawan sa iyo!
Polish : Wszystkiego Najlepszego! or Wszystkiego najlepszego zokazji urodzin! wszystkiego najlepszego z okazji urodzin
Portuguese (Brazil) : Parabens pelo seu aniversario! or Parabenspara voce! or Parabens e muitas felicidades!
Portuguese : Feliz Aniversario! or Parabens!
Punjabi (India) : Janam din diyan wadhayian!
Rajasthani (India) : Janam ghaanth ri badhai, khoob jeeyo!
Romanian : La Multi Ani!
Rosarino Basico (Argentina) : Feneligiz Cunumplegeanagonos!
Russian : S dniom razhdjenia! or Pazdravliayu s dniom razhdjenia!
Sami/Lappish : Lihkos Riegadanbeaivvis!
Samoan Manuia lou aso fanau!
Sanskrit (India) : Ravihi janmadinam aacharati!
Sardinian (Italy) : Achent'annos! Achent'annos!
Schwyzerduetsch (Swiss German) : Vill Glück zum Geburri!
Serbian : Srecan Rodjendan!
Slovak : Vsetko najlepsie k narodeninam!
Slovene : Vse najboljse za rojstni dan!
Sotho : Masego motsatsing la psalo!
Spanish : Feliz Cumplea–os!
Sri Lankan : Suba Upan dinayak vewa!
Sundanese : Wilujeng Tepang Taun!
Surinamese : Mi fresteri ju!
Swahili : Hongera! or Heri ya Siku kuu!
Swedish : Grattis pŒ fšdelsedagen
Syriac : Tahnyotho or brigo!
Tagalog (Philippines) : Maligayang Bati Sa Iyong Kaarawan!
Taiwanese : San leaz quiet lo!
Tamil (India) : Piranda naal vaazhthukkal!
Telugu (India) : Janmadina subha kankshalu!
Telugu : Puttina Roju Shubakanksalu!
Thai : Suk San Wan Keut!
Tibetan : Droonkher Tashi Delek!
Tulu(Karnataka - India) : Putudina dina saukhya!
Turkish : Dogum gunun kutlu olsun!
Ukrainian : Mnohiya lita! or Z dnem narodjennia!
Urdu (India) : Janam Din Mubarak
Urdu (Pakistan) : Saalgirah Mubarak!
Vietnamese : Chuc Mung Sinh Nhat!
Visayan (Philippines) : Malipayong adlaw nga natawhan!
Welsh : Penblwydd Hapus i Chi!
Xhosa (South Afican) : Imini emandi kuwe!
Yiddish : A Freilekhn Gebortstog!
Yoruba (Nigeria) : Eku Ojobi!
Zulu (South Afican) : Ilanga elimndandi kuwe!

cr:motosuki.blogspot.com

Ost The Great Queen Seon Deok

buat kalian yg pengen menikmati lagu2 di serial Queen Seondeok ,



Title
1. Main Title
2. 유리잔
3. 미실 테마
4. 달을 가리운 해(이소정)
5. 발밤발밤(홍광호)
6. 바람꽃(E.S) ( 예송)
7. 아라로(IU)
8. 도리안(到離岸)
9. 비재(比才)
10. Passo Dopo Passo(Paul Potts)
11. 바람꽃(E.S) (아이유)
12. Come, People Of God(이소정)
13. 사라(紗羅)
14. 가질 수 없는.. 안을 수 없는..
15. Destruction Of The Kingdom
16. 덕만 테마
17. 하눌나리
18. 낭장결의
19. Dreams
20. The Rising Empire

BISA KLIK disini


n ini

special ost naa



01.그대가 그립습니다 / 주상욱
02.오직 한사람 / 엄태웅

klik donlot

special ost part2



01 슬픈 이야기 - Lee Yeo Weon

klik donlotpart2
This entry was posted in

The Great Queen Seon Deok Episode 33



Setelah batas waktu tiga hari habis, para hwarang kembali berkumpul dan Munno (Jung Ho-bin) mengulangi pertanyaannya mengenai makna ketiga dari nama Shilla. Melihat semuanya terdiam, Mishil (Go Hyeon-jeong) dengan penuh kemenangan menyebut kalau ronde tersebut berakhir imbang.

Tiba-tiba Yushin (Uhm Tae-woong) angkat bicara dengan dengan terperinci menjelaskan makna ketiga Shilla. Mata Munno langsung berbinar-binar, namun ia harus menahan kecewa ketika Yushin menyebut belum bisa menjelaskan artinya secara detil. Dengan suara mantap, Munno menetapkan Yushin sebagai pemenang ronde kedua.

Mishil tidak mudah dibohongi, ia sadar kalau Putri Deokman (Lee Yo-won) dan Yushin sudah tahu apa arti makna ketiga nama Shilla. Ketika berdiskusi dengan Munno, Putri Deokman dengan tepat mampu menebak alasan kenapa sang penasehat menentangnya menjadi pemimpin Shilla : sebagai wanita, Putri Deokman dianggap tidak akan mampu memenuhi cita-cita pendiri Shilla.

Keinginan untuk memenuhi para pendahulu Shilla juga dirasakan oleh Yushin. Saat berdiskusi dengan ayahnya Kim Seohyeon (Ju Sung-mo), Yushin menyebut bahwa untuk memenuhi cita-cita tersebut, keinginan bangsa Gaya untuk menjadikannya sebagai raja harus dilepas demi mengejar cita-cita yang lebih besar : mempersatukan tiga kerajaan.

Perdebatan antara Putri Deokman dan Munno makin sengit, apalagi ketika sang penasehat secara tersirat menyatakan bahwa secara kemampuan, Mishil lebih pantas jadi pemimpin. Namun dengan mantap Putri Deokman menyebut bahwa Mishil sama sekali tidak pantas, karena ia tidak pernah punya cita-cita untuk memenuhi impian para pendahulu Shilla.

Mendengar ucapan Putri Deokman, ingatan Bidam (Kim Nam-gil) langsung melayang ke masa lalu, dimana Munno telah menyiapkan peta geografi Goguryeo dan Baekje. Namun, sebuah kejadian membuat peta tersebut sempat jatuh ke tangan kelompok penjahat, dan pada akhirnya mengubah hubungan Munno dan Bidam selamanya.

Untuk memastikan kalau peta geografi yang pernah diperjuangkan mati-matian masih ada ditempatnya, Bidam mengunjungi biara empat peta tersebut disimpan. Tidak sengaja menemukan sebuah surat bertuliskan nama Hyeonjong, Bidam terkejut saat tahu tanggal kelahiran Hyeonjong sama persis dengannya.

Mishil kembali melakukan langkah yang mengejutkan, ia mengunjungi Yushin yang tengah berlatih keras sambil menyatakan harapannya supaya sang hwarang berusaha keras memenangkan duel melawan Bojong (Baek Do-bin) yang notabene adalah putranya sendiri.

Demi menyelidiki asal-usulnya, Bidam meminta ijin pada Putri Deokman untuk masuk ke perpustakaan istana. Aksinya terlihat oleh Seolwon (Jun Noh-min), yang terkejut saat tahu apa yang telah dibaca pria itu. Saat berjalan keluar, Bidam berpapasan dengan Mishil.

Pembicaraan antara keduanya tidak bisa dihindari, wajah Mishil sempat berubah saat Bidam menceritakan kalau Munno pernah mengatakan dirinya mirip dengan wanita itu. Sebelum berpisah, Mishil memberikan satu nasehat kecil, yang membuatnya merasa semakin ada ikatan dengan Bidam.

Begitu sampai ke kediamannya, Bidam dimarahi habis-habisan oleh Munno karena lancang membuka-buka peta Tiga Kerajaan. Tidak tahan lagi mendapat perlakuan tidak adil, Bidam mencurahkan isi hatinya yang merasa diacuhkan Munno sejak tragedi dimana dirinya yang masih kecil membantai para perampok yang sempat mencuri peta Tiga Kerajaan.

Kejadian tersebut membuat Bidam semakin terluka, ia menemui Putri Deokman sambil berjanji bakal membuat Yushin sebagai pungwolju alias kepala divisi hwarang. Untuk itu, Bidam nekat mendatangi balai pertemuan dan didepan semua orang menyebut ingin bergabung di ronde ketiga kompetisi yang ditetapkan Munno : duel antara para hwarang.



cr:indosiar.com

Saturday, December 26, 2009

The Great Queen Seon Deok Episode 32-33




The Great Queen Seon Deok Episode 32




Dengan lancar, Bojong (Baek Do-bin) mampu menjawab pertanyaan Munno (Jung Ho-bin) seputar pentingnya bagi seorang komandan untuk mengamati situasi sekelilingnya baik dalam keadaan normal maupun perang. Tanpa ragu-ragu, Munno menyebut pemenang ronde pertama adalah Bojong.

Di kediamannya, Mishil (Go Hyeon-jeong) tersenyum gembira karena sadar Munno telah menerapkan apa yang pernah diajarkan oleh mendiang Raja Jinheung : jangan pernah memusatkan perhatian hanya pada satu hal melainkan pada keseluruhan.

Tugas kedua dari Munno terhadap para kontestan sukses membuat wajah Mishil berubah : dalam waktu tiga hari, mereka harus menemukan tiga makna dibalik nama Shilla yang juga merupakan definisi dari hwarang. Masing-masing kubu berusaha menginterpretasikan berdasarkan apa yang sudah diketahui selama ini.

Namun, belum ada yang bisa menemukan makna ketiga dari nama Shilla. Tiba-tiba, Putri Deokman (Lee Yo-won) teringat dengan pembicaraan terakhirnya bersama Munno, dan mulai curiga kalau topik tersebut berkaitan dengan tugas kedua yang diberikan sang penasehat hwarang.

Dengan wajah geram, Mishil meyakini bahwa tidak ada satu pihakpun yang bisa menjawab dan memerintahkan kubunya untuk tidak berusaha mencari tahu jawaban pertanyaan Munno. Sudah tentu hal ini membuat para bawahannya heran, satu-satunya yang langsung mengiyakan adalah Sejong (Dok Go-young).

Rupanya semua berkaitan dengan Raja Jinheung (Lee Soon-jae), yang di masa pemerintahannya menyuruh Geochilbu untuk menuliskan makna ketiga dari nama Shilla ke dalam buku sejarah kerajaan Guksa. Namun begitu memasuki masa pemerintahan Raja Jinji (Im Ho), bagian yang memuat definisi ketiga tersebut diganti sementara tulisan aslinya dibakar.

Kejadian tersebut kontan menyulut kemarahan para bangsawan. Diam-diam dibelakang layar terjadi kesepakatan untuk menggulingkan Raja Jinji, mereka mulai bergerak dengan mendekati Mishil. Setelah Munno menyatakan tidak akan ikut campur, Mishil dan para bangsawan mulai bergerak.

Meski sukses, Geochilbu kuatir dengan gerak-gerik Mishil. Ketakutannya terbukti ketika bicara empat mata dengan sang pemegang segel kerajaan, yang menyebut berambisi menjadi ratu untuk memenuhi ambisi Raja Jinheung. Dengan tegas, Geochilbu menentang rencana Mishil. Namun setelah mengutus Munno untuk menyerahkan surat pada Raja Jinpyeong muda (Baek Jong-min), Geochilbu meninggal tanpa diketahui penyebabnya.

Di perpustakaan kerajaan, Yushin (Uhm Tae-woong) dan Alcheon (Lee Seung-hyo) yang berniat mencari tahu soal makna ketiga Shilla kalah cepat dari Bojong (Baek Do-bin) dan Seokpum (Hong Kyung-in). Namun tiba-tiba Seolwon (Jun Noh-min) muncul, dan memerintahkan keduanya untuk tidak lagi meneruskan pencarian.

Di perpustakaan, Yushin menyadari bahwa salah satu buku sejarah Guksa ternyata memiliki segel yang berbeda. Kecurigaan tersebut disampaikan pada Putri Deokman, yang kemudian menanyakannya pada Raja Jinpyeong (Jo Min-ki). Dari situ baru ketahuan bahwa setelah perpustakaan kerajaan dirusak Raja Jinji, Sejong-lah yang ditugaskan menulis ulang bagian yang hilang.

Satu-satunya petunjuk adalah mencari tahu siapa Geochilbu, pejabat yang ternyata memiliki banyak prestasi. Dari penuturan Yushin, Putri Deokman mulai yakin bahwa Mishil telah mengetahui jawaban dari pertanyaan Munno namun tidak ingin ada satu pun yang tahu. Penyelidikan dilanjutkan ke biara Heungnyun, tempat dimana Geochilbu pertama kali merampungkan kitab sejarah Guksa.

Seperti yang sudah ditebak, Putri Deokman berusaha menelusuri peninggalan Geochilbu di di biara Heungnyun namun tidak menemukan petunjuk apa-apa. Saat mengunjungi ibunya Putri Manmyeong (Im Ye-jin), Yushin melihat patung peninggalan Geochilbu dan tiba-tiba teringat sesuatu.

Dengan cepat Yushin berlari kembali ke biara Heungnyun, dimana Putri Deokman ternyata juga telah menemukan petunjuk. Keduanya terkejut saat tahu petunjuk tersebut ternyata berkaitan dengan sebuah benda yang telah lama dimiliki Putri Deokman.


The Great Queen Seon Deok Episode 33



Setelah batas waktu tiga hari habis, para hwarang kembali berkumpul dan Munno (Jung Ho-bin) mengulangi pertanyaannya mengenai makna ketiga dari nama Shilla. Melihat semuanya terdiam, Mishil (Go Hyeon-jeong) dengan penuh kemenangan menyebut kalau ronde tersebut berakhir imbang.

Tiba-tiba Yushin (Uhm Tae-woong) angkat bicara dengan dengan terperinci menjelaskan makna ketiga Shilla. Mata Munno langsung berbinar-binar, namun ia harus menahan kecewa ketika Yushin menyebut belum bisa menjelaskan artinya secara detil. Dengan suara mantap, Munno menetapkan Yushin sebagai pemenang ronde kedua.

Mishil tidak mudah dibohongi, ia sadar kalau Putri Deokman (Lee Yo-won) dan Yushin sudah tahu apa arti makna ketiga nama Shilla. Ketika berdiskusi dengan Munno, Putri Deokman dengan tepat mampu menebak alasan kenapa sang penasehat menentangnya menjadi pemimpin Shilla : sebagai wanita, Putri Deokman dianggap tidak akan mampu memenuhi cita-cita pendiri Shilla.

Keinginan untuk memenuhi para pendahulu Shilla juga dirasakan oleh Yushin. Saat berdiskusi dengan ayahnya Kim Seohyeon (Ju Sung-mo), Yushin menyebut bahwa untuk memenuhi cita-cita tersebut, keinginan bangsa Gaya untuk menjadikannya sebagai raja harus dilepas demi mengejar cita-cita yang lebih besar : mempersatukan tiga kerajaan.

Perdebatan antara Putri Deokman dan Munno makin sengit, apalagi ketika sang penasehat secara tersirat menyatakan bahwa secara kemampuan, Mishil lebih pantas jadi pemimpin. Namun dengan mantap Putri Deokman menyebut bahwa Mishil sama sekali tidak pantas, karena ia tidak pernah punya cita-cita untuk memenuhi impian para pendahulu Shilla.

Mendengar ucapan Putri Deokman, ingatan Bidam (Kim Nam-gil) langsung melayang ke masa lalu, dimana Munno telah menyiapkan peta geografi Goguryeo dan Baekje. Namun, sebuah kejadian membuat peta tersebut sempat jatuh ke tangan kelompok penjahat, dan pada akhirnya mengubah hubungan Munno dan Bidam selamanya.

Untuk memastikan kalau peta geografi yang pernah diperjuangkan mati-matian masih ada ditempatnya, Bidam mengunjungi biara empat peta tersebut disimpan. Tidak sengaja menemukan sebuah surat bertuliskan nama Hyeonjong, Bidam terkejut saat tahu tanggal kelahiran Hyeonjong sama persis dengannya.

Mishil kembali melakukan langkah yang mengejutkan, ia mengunjungi Yushin yang tengah berlatih keras sambil menyatakan harapannya supaya sang hwarang berusaha keras memenangkan duel melawan Bojong (Baek Do-bin) yang notabene adalah putranya sendiri.

Demi menyelidiki asal-usulnya, Bidam meminta ijin pada Putri Deokman untuk masuk ke perpustakaan istana. Aksinya terlihat oleh Seolwon (Jun Noh-min), yang terkejut saat tahu apa yang telah dibaca pria itu. Saat berjalan keluar, Bidam berpapasan dengan Mishil.

Pembicaraan antara keduanya tidak bisa dihindari, wajah Mishil sempat berubah saat Bidam menceritakan kalau Munno pernah mengatakan dirinya mirip dengan wanita itu. Sebelum berpisah, Mishil memberikan satu nasehat kecil, yang membuatnya merasa semakin ada ikatan dengan Bidam.

Begitu sampai ke kediamannya, Bidam dimarahi habis-habisan oleh Munno karena lancang membuka-buka peta Tiga Kerajaan. Tidak tahan lagi mendapat perlakuan tidak adil, Bidam mencurahkan isi hatinya yang merasa diacuhkan Munno sejak tragedi dimana dirinya yang masih kecil membantai para perampok yang sempat mencuri peta Tiga Kerajaan.

Kejadian tersebut membuat Bidam semakin terluka, ia menemui Putri Deokman sambil berjanji bakal membuat Yushin sebagai pungwolju alias kepala divisi hwarang. Untuk itu, Bidam nekat mendatangi balai pertemuan dan didepan semua orang menyebut ingin bergabung di ronde ketiga kompetisi yang ditetapkan Munno : duel antara para hwarang.

cr:indosiar.com+kadorama-recaps.blogspot.com

The Great Queen Seon Deok Episode 29-31



The Great Queen Seon Deok Episode 29



Kemunculan Deokman (Lee Yo-won) yang disusul oleh Yushin (Uhm Tae-woong) dan Alcheon (Lee Seung-hyo) langsung membuat rakyat bersorak gembira, sementara wajah Mishil (Go Hyeon-jeong) berubah menjadi pucat-pasi.

Bisa dibayangkan bagaimana geramnya Mishil saat sadar dirinya telah ditipu Deokman, ia benar-benar terpukul. Apalagi dari tengah rakyat yang hadir, terdengar suara-suara yang menanyakan benar-tidaknya Raja Jinpyeong (Jo Min-ki) mempunyai anak kembar. Ucapan tersebut langsung disikapi Ratu Maya (Yoon Yoo-sun) dengan mendatangi Deokman di menara, kemudian menarik tangan sang putri untuk mengikutinya.

Di hadapan semua orang, dengan bercucuran air mata Ratu Maya akhirnya mengaku telah melahirkan bayi kembar. Aksi tersebut sukses membuat rakyat bersimpati dengan penderitaan sang ratu, apalagi ditambah pengakuan Raja Jinpyeong yang mengaku telah bersalah membuang Deokman.

Sambil mengangkat tangan sang putri, Raja Jinpyeong mengakui Deokman sebagai putri. Sorak-sorai langsung bergemuruh, termasuk Bidam (Kim Nam-gil) yang meski diikat tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya, namun mata Deokman hanya tertuju ke satu arah : Mishil, yang balik menatapnya dengan senyum sinis.

Rasa haru dirasakan Ratu Maya saat tengah mendandani Deokman, namun ingatan gadis itu melayang ke saat terakhir dirinya berbincang-bincang dengan Putri Cheonmyeong dan tiba-tiba hatinya terasa hampa. Kepada sang ibu, Putri Deokman mengaku kalau dirinya kembali ke istana bukanlah untuk hidup bahagia atau hanya sekedar menjadi putri.

Dipanggil menghadap Raja Jinpyeong, Deokman dengan getir mengatakan bisa mengerti sikap sang ayah yang rela membuang putrinya hanya untuk menjaga tahta. Hanya terdiam, Raja Jinpyeong terkejut saat tahu niat Putri Deokman adalah untuk berhadapan langsung dengan Mishil.

Di kediaman Mishil, Sejong (Dok Go-young) dan putranya Hajong (Kim Jung-hyun) memaksa untuk menggerakkan pasukan demi mendongkel Deokman. Namun, langkah tersebut ditentang oleh Seolwon (Jun Noh-min). Dengan cermat, Mishil memerintahkan mereka untuk memastikan tidak ada satu pun bangsawan yang beralih ke kubu Putri Deokman.

Saat tengah rapat bersama Kim Seohyeon (Jung Sung-mo) dan Kim Yongchun (Do Yi-sung), Raja Jinpyeong mengira kalau kubu Mishil bakal menentang pengangkatan Deokman sebagai putri. Dugaannya meleset. Sejong yang muncul bersama Misaeng (Jung Woong-in) dan Hajong belakangan menyebut bahwa meski para bangsawan kecewa) karena Raja dan Ratu menutupi soal bayi kembar, mereka tetap mendukung pengangkatan Deokman.

Meskipun terlihat tenang, Mishil ternyata tetap seperti manusia biasa. Menjelang pelantikan Deokman sebagai putri, ia melampiaskan kekesalannya dengan memecahkan gelas-gelas yang biasa digunakan untuk bermain musik. Setelah itu, ia kembali merias diri untuk menyambut acara pelantikan.

Saat berjalan menuju lokasi, Mishil berpapasan dengan Deokman. Setelah sama-sama saling memberi hormat, perang urat syarat mulai terjadi, namun Mishil melihat satu hal : bibir dan tangan Deokman bergetar hebat. Mengira dirinya diatas angin dan langsung meraih tangan Deokman, teguran kalau dirinya telah lancang membuat Mishil kaget.

Di rapat pertama para hwarang yang dipimpinnya, Putri Deokman langsung membuat gebrakan : ia menunjuk Alcheon dan anak buahnya sebagai pengawal pribadi. Mishil tidak bisa menahan emosinya lagi, di kediamannya ia memerintahkan Seolwon untuk mengambil paksa Guru Wolcheon dengan segala cara. Bila gagal, Guru Wolcheon harus dibunuh.

Namun Putri Deokman tidak kalah gesit. Kepada Raja Jinpyeong, ia menyampaikan rencananya untuk membuka hal yang selama ini hanya diketahui kalangan tertentu kepada rakyat banyak. Tujuannya cuma satu : Putri Deokman tidak ingin rakyat dikelabuhi oleh hal-hal berbau takhyul yang sebenarnya bisa dijelaskan secara ilmiah.

Dengan cara licik, Bojong (Baek Do-bin) dan Seokpum (Hong Kyung-in) berhasil menculik Guru Wolcheon. Namun ditengah jalan keduanya bertemu Yushin dan pasukannya, sempat terjadi pertempuran seru dan Seokpum mengancam bakal membunuh Guru Wolcheon. Kemunculan Alcheon, yang mengaku diperintahkan Putri Deokman untuk membawa Guru Wolcheon, membuat Bojong dan Seokpum gigit jari.

Saat rapat dengan para pejabat istana, Putri Deokman menyampaikan perintahnya untuk tidak lagi menggunakan jabatan pendeta agung melainkan bakal membuka semua hal berbau ramalan untuk bisa diketahui rakyat banyak. Mata Mishil kembali membelalak saat Guru Wolcheon muncul dan membeberkan rencananya membuat menara observasi yang dinamakan chumsongdae.

Di ruang tertutup, Mishil bicara empat mata dengan Putri Deokman soal rencana sang putri. Dengan terperinci, Mishil menguraikan soal negara, tingkat jabatan, sampai kedudukan masing-masing kubu secara vertikal dan horisontal. Argumen yang disampaikan sangat masuk akal : Putri Deokman akan kehilangan kekuasaannya bila jabatan Gadis yang Dipilih oleh Langit dilepas begitu saja.

Mendengar penuturan Mishil yang telah berpengalaman dalam pemerintahan, Putri Deokman mulai ragu-ragu. Debat diantara keduanya tidak bisa dihindari, Putri Deokman mewakili hal-hal ideal yang harus dilakukan sementara Mishil menyebut fakta yang terjadi dalam kehidupan nyata.

Putri Deokman semakin percaya diri dengan apa yang ingin dilakukan, ia menyebut bakal menjadikan Shilla seperti harapannya. Ucapan sang putri sempat membuat Mishil sedikit tergetar, dan di saat yang sama Putri Deokman juga mulai ragu dengan kebenaran pendapatnya.


The Great Queen Seon Deok Episode 30




Setelah menyampaikan isi pikiran masing-masing, Putri Deokman (Lee Yo-won) dan Mishil (Go Hyeon-jeong) berpisah dengan pikiran masing-masing. Diam-diam, Mishil merasa kalau kedewasaan Putri Deokman bertambah dengan cepat dalam waktu yang singkat.

Niat Putri Deokman tidak hanya ditentang oleh kubu Mishil melainkan juga oleh orang-orang yang mendukungnya, Alcheon (Lee Seung-hyo) bahkan mendesaknya untuk mempertahankan status sebagai Gadis yang Dipilih Langit. Namun, Putri Deokman punya pikiran sendiri : ia menganggap status tersebut kelak hanya akan digunakan untuk kepentingan politik salah satu pihak.

Saat bicara berdua dengan Yushin (Uhm Tae-woong), Putri Deokman menceritakan pertemuan dengan Mishil yang telah membuka wawasan baru bagi dirinya. Sementara itu di kediamannya, Mishil terus menyalahkan keputusan Deokman didepan Seolwon (Jun Noh-min).

Namun, sang jendral bisa melihat ada hal lain yang membuat resah sang pemegang segel kerajaan. Rupanya meski bermusuhan, Mishil sangat iri dengan sejumlah kelebihan Deokman yang tidak dimilikinya mulai dari ideologi, usia yang masih muda, hingga darah songgeol (keturunan raja).

Untuk hal terakhir, Mishil mengucapkannya sambil menahan air mata yang nyaris jatuh. Bahkan, Mishil mengakui bahwa ucapan Putri Deokman membuatnya sangat terharu dan seandainya sang putri bukan anak kembar raja, bukan tidak mungkin ia sendiri yang bakal membesarkan gadis itu.

Di sejumlah penjuru kota, pengumuman soal pengangkatan Putri Deokman membuat rakyat bersuka cita dan secara tidak sengaja dilihat oleh Munno (Jung Ho-bin). Ingatannya langsung melayang ke 20 tahun silam, dan belakangan Munno sangat kaget saat Bidam (Kim Nam-gil) memberitahu kalau putri yang dimaksud adalah Deokman, nangdo yang pernah diselamatkan sang murid beberapa waktu sebelumnya.

Tanpa banyak pertentangan, rapat menteri kabinet alias hwabaek memutuskan setuju untuk pembangunan menara observasi alias chomseongdae. Rupanya Mishil punya rencana sendiri, ia ingin Putri Deokman menghadapi konsekuensi dari tindakannya yang dianggap gegabah.

Ketika malam tiba, Putri Deokman didatangi Bidam. Setelah berbincang-bincang soal perseteruan dengan Mishil, Bidam menyampaikan niatnya untuk bisa melayani sang putri. Sambil berlutut, Bidam menyatakan kesetiaannya. Gembira karena berhasil menjalankan niatnya, pemuda itu mendadak diserang oleh seseorang yang tidak dikenal.

Rupanya orang tersebut adalah Chilseok (Ahn Kil-kang), yang mendapat tugas khusus dari Seolwon. Kecurigaan sang jendral terbukti : Bidam memiliki hubungan dengan Munno karena sejumlah jurus khas yang tidak bisa dipungkiri lagi kehebatannya.

Putri Deokman benar-benar serius menjalankan tugasnya dan tak henti belajar, dengan cermat ia meminta Yushin untuk menempatkan Wolya (Joo Sang-wook) dan Seolji (Jung Ho-geun) di Seorabol sebagai bagian dari usaha pengintegrasian bangsa Gaya dengan kerajaan Shilla.

Di kediamannya, Mishil memutuskan kalau dirinya tidak lagi membutuhkan sosok Sohwa (Seo Young-hee), yang tengah terbaring tidak sadarkan diri di sebuah tempat terpencil. Perintah tersebut, yang tengah dibicarakan oleh Bakui (Jang Hee-woong) dan Deokchung (Suh Dong-won), secara tidak sengaja terdengar oleh Sohwa yang ingatannya telah pulih.

Berhasil melarikan diri, Sohwa melihat pengumuman tentang Putri Deokman yang bakal meresmikan pembangunan chomseongdae dan memutuskan untuk datang ke tempat itu. Di saat yang sama, para hwarang bawahan Mishil sudah mengetahui kalau mantan dayang istana tersebut sudah kabur, dan langsung melakukan pengejaran.

Dengan suara keras, Sohwa memanggil-manggil nama Deokman. Namun sebelum sempat terlihat, ia langsung kabur begitu melihat kemunculan Chilseok. Di tengah hutan, Sohwa diciduk oleh Bakui dan Deokchung yang berniat membunuh sang dayang.

Sebelum niat tersebut terjadi, seorang pria bertopi menghentikan aksi keduanya. Hanya dengan menggunakan ranting, pria tersebut mampu menaklukkan Bakui dan Deokchung. Sohwa sangat kaget saat tahu siapa yang menolongnya, namun belakangan terjadi pertempuran kedua antara pria tersebut dengan Chilseok, yang sangat kaget saat tahu lawannya adalah Munno.

Kesempatan itu digunakan Sohwa untuk melarikan diri. Di saat yang sama, Putri Deokman menghentikan rombongan karena samar-samar mendengar suara yang sangat dikenalnya. Tak berapa lama, suara tersebut kembali terdengar dari arah belakang.


The Great Queen Seon Deok Episode 31




Mata Putri Deokman (Lee Yo-won) membelalak begitu melihat sosok yang sudah begitu dikenalnya, ia langsung berlari mendekati Sohwa (Seo Young-hee) kemudian memeluknya sambil menangis seperti anak kecil.

Setelah saling bercerita tentang pengalaman masing-masing setelah kejadian di padang pasir, Putri Deokman dan Sohwa melepas kerinduan. Namun sayang, kali ini mereka tidak bisa seperti ibu dan anak karena status Deokman sebagai putri raja.

Di kediamannya, Mishil sangat kaget saat tahu Sohwa akhirnya berhasil bertemu dengan Putri Deokman. Pukulan semakin dalam saat ia diberitahu Chilseok (Ahn Kil-kang) kalau orang yang telah membantu Sohwa meloloskan diri adalah Munno (Jung Ho-bin). Oleh Seolwon (Jun Noh-min), diusulkan supaya Chilseok menjadi ketua hwarang alias wonsanghwa yang baru. Tujuannya cuma satu : menggalang kekuatan kubu Mishil.

Sementara itu, orang yang bakal ditawari tengah termenung dikamar membayangkan ekspresi Sohwa yang begitu ketakutan saat melihat dirinya. Saat ditawari Mishil, Chilseok menyebut perlu waktu untuk berpikir. Pertemuan dengan Sohwa membuat Chilseok yakin tidak ada tempat bagi dirinya di sisi wanita itu, ia memutuskan untuk menyetujui permintaan Mishil.

Hati Chilseok teriris saat menyadari kalau di sisi Mishil adalah satu-satunya tempat dimana dirinya harus berada. Ketika berjalan keluar, pria itu terkejut oleh kehadiran Sohwa yang tiba-tiba memanggilnya. Di pinggir kolam, keduanya sadar bahwa setelah hari itu, posisi keduanya ada di kubu yang berseberangan.

Ketika persiapan acara pelantikan ketua hwarang alias pungwolju tengah dilangsungkan, terjadi keributan di pintu masuk ketika seorang pria setengah baya berusaha memaksa masuk. Saat berusaha mencegah, keributan malah terjadi setelah Jukbang (Lee Moon-shik) dan Godo (Ryu Dam) terpental.

Di dalam balai pertemuan pertempuran tidak bisa dihindari, tanpa kesulitan pria tersebut mampu menaklukkan para hwarang termasuk para pentolannya. Bahkan, para petarung seperti Alcheon (Lee Seung-hyo) dan Seokpum (Hong Kyung-in) bukan tandingan. Begitu masuk ke lokasi, rombongan Putri Deokman terkejut melihat para hwarang andalan istana terkapar sementara seorang pria berdiri dengan gagahnya.

Begitu melihat, Deokman sadar kalau pria itu adalah guru Bidam. Yang wajahnya pucat adalah Mishil, sementara para hwarang langsung terkejut saat mengetahui pria yang baru saja menaklukkan mereka adalah Munno. Sambil menunjuk kursinya yang kosong, Munno menyebut kalau kehadirannya adalah untuk menghadiri pelantikan wonsanghwa.

Namun, Mishil sadar kalau kehadiran Munno tidak semata-mata demi acara rutin para hwarang. Saat bicara empat mata di kediamannya, Mishil mengingatkan kalau berkat dirinyalah Munno, yang merupakan anak putri bangsa Gaya, bisa masuk ke jajaran bangsawan Shilla.

Dengan wajah tenang, Munno kembali membeberkan sejumlah kejadian yang membuatnya memutuskan kembali ke istana. Ucapan Munno, yang mengaku bakal mengawasi turnamen hwarang, membuat Mishil bagai tersambar petir. Sementara itu di tempat lain, Putri Deokman terkejut saat mendapat kabar Munno tengah berdiskusi dengan Mishil.

Ingatan Sohwa kembali ke 20 tahun sebelumnya, ia ingat betul kalau Munno pernah berniat menjodohkan Deokman yang masih bayi dengan Bidam muridnya. Dari situ terungkap, Bidam ternyata adalah anak Mishil dari Raja Jinji. Dengan hati-hati, Sohwa berusaha mencari tahu tentang karakter Bidam dari Putri Deokman.

Berkat saran Seolwon, Mishil akhirnya setuju kalau kompetisi untuk menentukan siapa pungwolju alias kepala para hwarang diawasi oleh Munno. Apalagi, Seolwon menyebut yakin bahwa putranya Bojong (Baek Do-bin) tidak akan menemui kesulitan untuk merebut posisi itu.

Di pertemuan pertamanya dengan Munno, Putri Deokman sudah dikejutkan oleh ketidaksetujuan sang penasehat (gukseon) akan niatnya untuk menggantikan sang ayah. Selain menyebut Putri Deokman tidak akan bisa meraih semuanya sendirian, Munno juga memintanya untuk membuktikan diri kalau sang putri lebih baik dari Mishil.

Dari kediaman Putri Deokman, Munno secara tidak sengaja bertemu dengan Sohwa. Keduanya terlibat pembicaraan serius, Sohwa menyebut tidak setuju dengan rencana Munno untuk menjodohkan Putri Deokman dengan Bidam. Obrolan tersebut terdengar oleh Bidam, yang langsung teringat dengan kejadian di masa silam saat dirinya yang masih kecil membantai sekelompok orang dan langsung membuat sang guru berubah sikap.

Di hari kompetisi penentuan pungwolju, masing-masing pimpinan klan hwarang menghadiri rapat yang dihadiri oleh Putri Deokman, Mishil, Munno, dan Chilseok. Berbeda dengan biasa, kali ini pertarungan untuk menentukan siapa yang terbaik menjadi bagian terakhir dari kompetisi.

Pada ronde pertama, Munno ternyata mengetes kejelian para pimpinan klan hwarang. Saat ditanya, tidak ada satupun yang menjawab kecuali Bojong, yang dengan rinci mampu menjelaskan sejumlah atribut yang tidak biasa dikenakan hwarang yang menjaga di pintu masuk. Wajah Putri Deokman langsung berubah, ia sadar kubu Mishil telah memenangkan ronde pertama kompetisi.

cr:indosiar.com+kadorama-recaps.blogspot.com